Senja di Selat Hormuz
Karya: Eko Windarto Di cakrawala politik yang bergolak Trump berdiri dengan janji di bibirnya “Tenggat waktu Selasa malam,” gumamnya Bagaikan pedang yang menyayat udara malam Iran, negeri nan berperang dalam bayang-bayang nuklir Diminta menanggalkan jangan sampai bara senjata itu membakar Menyerahkan harapan damai yang terbingkai dalam kata gencatan Dan membuka gerbang Selat Hormuz, alur minyak dunia, tersekat di tengah samudera. Namun, di balik janji yang disulut api Para kritikus bersuara lantang, menggelar tafsir kelam: Serangan pada pembangkit listrik sipil Adalah kejahatan perang, noda hitam kemanusiaan yang tak terhapus dan terlupakan Trump membantah kata-kata itu dengan keras kepala,l Seolah setiap kebisingan itu hanya gema kosong di ruang yang sunyi Dunia merenung, di mana batas antara kekuasaan dan kemanusiaan Antara ancaman dan harapan, antara perang dan damai? Janji yang terucap adalah lebih dari sekadar kata,l Mereka adalah bahas malapetaka dan harapa...