Postingan

Nala Festival 2025: Konser Amal dan Solidaritas untuk Sumatera

Gambar
BATU, – Menutup tahun 2025 dengan penuh semangat kebersamaan dan kepedulian, organisasi penulis SATUPENA Jawa Timur bersama Komunitas Puisi Esai Jawa Timur (KPJ) sukses menggelar Nala Festival 2025, sebuah perhelatan budaya dan kemanusiaan yang memadukan seni sastra dengan aksi nyata solidaritas. Bertempat di Nala Eco Point, Jalan Dewi Sartika, Kota Batu, Rabu malam (31/12), acara ini menjadi momen istimewa yang menyatukan beberapa peringatan besar: Hari Ulang Tahun ke-79 Armada Republik Indonesia, Hari Nusantara, dan Hari Puisi Esai yang ketiga.  Nala Festival 2025 tak sekadar menjadi ajang hiburan dan apresiasi budaya, tetapi juga menjadi panggung konser amal untuk membantu wilayah Sumatera yang tengah menghadapi musibah bencana alam. Sebagai respons atas kondisi darurat di Sumatera, komunitas sastra Jawa Timur mengambil peran penting dalam menggalang dana dan dukungan secara kreatif.  Gerakan ini diperkuat oleh kehadiran 16 kapal KRI TNI Angkatan Lau...

Karang Taruna RT 33 Sikunir, Wadah Pemuda untuk Kemajuan Desa

Gambar
Kepala Desa Pendem, Tri Wahyuono Efendi, saat memberi sambutan di acara Halalbihalal Dusun Sekar Putih, RT 33, RW 08 Junrejo, Batu – Pemerintah Desa Pendem melalui Kepala Desa Tri Wahyuono Efendi mengapresiasi peran serta aktif pemuda-pemudi dalam membangun lingkungan melalui Karang Taruna RT 33, RW 08 Sikunir, Dusun Sekar Putih, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Acara pengukuhan dan silaturahmi yang digelar pada malam Tahun Baru, Rabu (31/12/25), menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi dan menumbuhkan semangat gotong royong di kalangan generasi muda. Kepala Desa Tri Wahyuono Efendi menyampaikan, keberadaan Karang Taruna memiliki arti strategis dalam mendukung pemerintahan desa dan menjadi mitra utama dalam membangun desa melalui peran aktif pemuda. Ia menegaskan pentingnya sinergi antara organisasi pemuda dengan pemerintahan desa guna mewujudkan kemajuan yang berkelanjutan. “Kita berharap Karang Taruna RT 33 ini bisa menjadi wadah yang bermanfaat, tem...

KETULUSAN DI TENGAH LUKA

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Di rumah luka yang atapnya bocor, lilin masih menyala, ketulusan datang bukan karena banjir bandang, tapi karena hati yang bercahaya. Ketulusan kadang lahir di tengah lumpur, di antara gelondongan kayu yang patah, di bumi yang kehilangan pegangan tua, kini patah berkeping-keping, di antara perut menahan lapar yang menua. Hari-hari terasa panjang, seakan waktu berjalan lambat dan pincang, perut lapar masih tahu dari bunyinya, sebab mereka pandai menjaga, seperti menjaga anak sendiri. Di tengah luka yang tak kunjung usai, ketulusan masih bersinar, seperti puisi yang tak pernah padam, bercahaya di antara kesulitan dan penderitaan, menerangi kegelapan jiwa dan raga, menjadi cahaya di tengah malam yang gelap. Batu, 29122025

Di Malam Kampung Bariat

Gambar
Karya: Eko Windarto  Di malam pekat, di bawah langit Papua Perempuan berkumpul, suara lirih membalut udara Hutan bukan sekadar pohon dan daun: ia nadi dan jiwa  Sagu tumbuh di rahim bumi, ubi mengakar di pelukan tanah Daun dan akar obat menjadi napas menghidupkan kehidupan  Tempat suci, sakral, warisan leluhur sepuluh marga Mereka peluk erat, dalam doa dan janji tak tergoyahkan Namun di balik canda dan harap, datang bisu ancaman PT Anugerah Sakti Internusa meremukkan sunyi Tebang, ganti, dan petaka hutan dalam genggaman Tanah adat terenggut, tanpa suara, tanpa basa-basi  “Kita tolak sawit datang!” seru perempuan itu. “Tanah ini darah di nadi kami, bukan ladang uang.” Mereka tahu, ini bukan hanya soal hutan Ini tentang hidup, tentang masa depan yang dirampas Luasnya sawit, tak terhitung rintih bumi dan manusia Enam belas juta, dua puluh lima juta hektare Papua jadi target, lahan begitu luas terbuka Undang-undang jadi tombak yang menusuk akar adat Hati-hati...

KORUPTOR dan KETAKUTAN BERLAPIS

Gambar
ilustrasi Puisi Esai Renungan Akhir Tahun Karya: Eko Windarto  Koruptor, sosok dalam bayang ketakutan Hidupnya terperangkap dalam paradoks sunyi Takut pada hidup yang menuntut kejujuran Juga takut pada mati tak bisa dibeli Dia takut bersaing di medan jujur Tak sanggup bertarung dengan kerja keras Rapuh di hadapan merit yang tulus Tidak percaya pada kemampuan yang sebenarnya Maka ia memilih jalan pintas Mengubah kuasa menjadi tameng Menyulap jabatan menjadi alat Menghalalkan uang sebagai pembenar Namun, dalam gemuruh hati, ada ketakutan lain Takut mati tanpa membawa harta Takut pada bisu kebenaran abadi Yang tak bisa dibungkam oleh saldo di rekening Korupsi bukan lahir dari nyali Melainkan dari kegelisahan dan takut kalah Takut menghadapi diri sendiri yang lemah Terperangkap dalam ironi dunia fana Dia bukan licik yang cerdas Melainkan naif dalam tipu daya,l Percaya bahwa nurani bisa dikhianati Bahwa hukum bisa diatur sesuka hati Tapi sejarah berbicara tanpa dusta Kuasa b...

JEMBATAN DARURAT

Gambar
Karya: Eko Windarto  Di atas aliran waktu yang mengalir tak bertepi Jembatan darurat menjalin janji  Seutas tali rapuh merengkuh dua dunia: Antara gugus harapan dan jurang kehampaan Khairunnisa berjalan dengan bayi sebagai bulan kecilnya Menerobos gelap malam ketidakpastian Suara rengekan kecilnya laksana nyanyian alam Nyanyikan kisah hidup yang berdetak di ujung kerentanan Pelukan ibu adalah benteng kasih Menantang deras arus yang bisa menenggelamkan segala asa Tali sling itu bukan sekadar pengikat badan Melainkan pita penghubung antara hati dengan kehidupan, antara rasa takut yang menjalar dan keinginan untuk bertahan. Setiap langkah mengayun di atas jurang penuh keraguan, namun ditorehkan oleh keberanian tanpa banding. Di seberang sana, desa terperangkap dalam sunyi, di mana kegelapan mencengkeram tanpa janji listrik, makanan tinggal cerita, dan kehidupan dililit kepasrahan. Hamdika melangkah dalam badai dan lumpur, menakar jarak demi harapan tersisa, setiap bu...

TANGIS SUNYI

Gambar
Karya: Eko Windarto  Di balik senyum sang penyintas Sumatera  Tersembunyi lautan duka  Mengalir dalam malam sunyi  Ketenangan palsu menutupi badai di dalam dada Dia pulang bukan beristirahat Tapi untuk merawat luka-luka tak kasat mata luka yang tercipta dari ingatan-ingatan pilu Tentang anak-anak tanpa atap, tanpa roti, tanpa harapan Tidurnya bukan dalam damai, melainkan diselimuti kepedihan menjerat jiwa Nyamuk di sana bukan hanya menggigit, tapi kenangan terus menggerogoti kalbu Mereka terbuang di lereng lumpur dan air keruh Berubah menjadi lukisan hidup yang terus menari di kepalanya Langkah-langkah kecil mencari secangkir air adalah doa-doa terlupakan di belakang keramaian dunia Ketika tangisnya pecah di ruang yang seharusnya memberi kehangatan Adalah bahasa hati tembus ruang dan waktu Kelemahan, keberanian tersamar di udara  Tangisan dan jiwa melukis empati di dada semesta  Anak-anak menatap dengan mata polosnya  Bertanya tentang air m...