Postingan

Memaknai Kata dan Sastra dalam Haul Gus Dur ke-16

Gambar
Dalam sarasehan sastra yang digelar pada acara Haul Gus Dur ke-16, Slamet Hendro Kusumo hadir memberikan pemantik diskusi dengan perspektif sosiologi sastra yang menarik dan mendalam, di Aula Hasyim Asy'ari Kota Batu, Jumat, 9/1/2026. Ia mengajak peserta untuk merenungkan makna kata sebagai kekuatan yang memikat dan memiliki daya magis di ruang sosial. Menurut Slamet, kata bukan hanya sekadar rangkaian bunyi atau huruf, tetapi sebuah simbol sosial yang lahir dari proses berpikir.  Ia mencontohkan konsep “Iqra” dalam Al-Qur’an yang berarti ‘bacalah’. Kata ini mengandung pesan penting tentang berfikir dan kesadaran. Dari kata “Iqra” kita diajak untuk memahami eksistensi Tuhan melalui pemikiran yang mendalam." Lebih jauh Slamet menyampaikan bahwa kata adalah pintu utama dalam menciptakan opini publik. "Dengan kata, seseorang dapat dipengaruhi, entah untuk kebaikan atau keburukan," ujarnya.  Kata, menurut Slamet, juga merupakan alat kuasa pengetahuan yang lua...

Merajut Kebersamaan dalam Haul Gus Dur ke-16

Gambar
Dalam helai waktu yang mengalir lembut, mengingat sosok Gus Dur yang senantiasa hidup dalam sanubari, Haul ke-16 beliau menjadi momentum untuk merajut kembali benang-benang kebersamaan dan kasih sayang. Ketua SATUPENA Jawa Timur, Bapak Akaha Taufan Aminudin, menyampaikan sambutan yang kaya makna, membingkai rasa cinta dan hormat yang mendalam kepada almarhum Gus Dur, di Aula Hasyim Asy'ari, Kota Batu, Jumat, 9/1/2025. Diantara gema pembacaan mocopat dan puisi-puisi esai yang sarat keindahan kata oleh Ki Sutopo, Eko Windarto, Ingit Mareta, Pendeta, Naseh, Mad Belin, Ki Sutopo, Zainul Mustakim, Ali Surahman, Jazuli, Panca Rahmad Pamungkas, Camat Bumiaji, Thomas Maido, dan para seniman serta tokoh masyarakat, semangat Gus Dur terasa hadir kembali, mengalir laksana aliran sungai yang tiada putus. Menurut Yuli Efendi Masud, semangat dalam menggelar haul ini bukanlah sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah panggilan jiwa yang terus menggelora.  Dari awal, kegiatan haul diran...

JEJAK Gus Dur: DEMOKRASI, KENEGARAAN, dan PLURALISME

Gambar
JEJAK Gus Dur: DEMOKRASI, KENEGARAAN, dan PLURALISME  Karya: Eko Windarto  Dalam hening yang merentang Jakarta menyulam malam Haul ke-16 Gus Dur menjadi bait puisi, menebarkan makna dalam kalbu bangsa Di sana, Mahfud MD berdiri, bukan sekadar insan, namun penjaga waktu Mengurai benang demokrasi yang kusut, merajut kembali harapan kenegaraan Memetik nada pluralisme, seperti angin yang mengusap lembut dedaunan keberagaman Dalam pangkuan kota yang tak pernah tidur, gema suara-suara berkumpul dalam doa  Menteri Agama Nasaruddin Umar, sang penuntun jiwa, membisikkan kesucian jiwa Ketua DPD Sultan Bachtiar dan Ganjar Pranowo pemikul amanah tanah dan  rakyat, laksana embun pagi yang menyapa harapan baru Dan Kardinal Suharyo, suara lintas iman, menari dalam simfoni hakikat kemanusiaan. Demokrasi bukan sekadar nama Ia adalah sungai yang mengalir jernih seperti cahaya  Membawa kehidupan dalam riak-riaknya yang tak selalu tenang Kenegaraan bukan hanya tentang b...

Tari "SANG PENGEMBARA" Memukau di Desa Triharjo, Lampung Selatan

Gambar
Pada tanggal 6 hingga 11 Januari 2026, Desa Triharjo, Merbau Mataram, Lampung Selatan, menjadi panggung magis bagi pertunjukan tari yang sarat makna: "SANG PENGEMBARA". Tarian khas ini lahir dari puisi penuh jiwa berjudul "Rumah Sang Pengembara" karya Sawir Wirastho, yang dihidupkan kembali oleh penari utama Winarto Ekram dan dirangkaikan oleh alunan musik orisinal dari Cak Gik Arbanat. Sebagai bagian dari SRAWUNG SENI SAWAH #5, sebuah festival seni yang bertujuan melestarikan dan mengangkat kekayaan budaya lokal, "SANG PENGEMBARA" hadir sebagai ekspresi perjalanan batin seorang pengembara.  Melalui gerak dan harmoni, tarian ini menuturkan pencarian makna hidup, menelusuri lorong-lorong waktu dan ruang dalam tradisi budaya Lampung yang kaya. Dalam balutan budaya Lampung yang kental, tarian ini bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah pengalaman spiritual yang mengajak penonton meresapi kedalaman jiwa, sekaligus memperkuat jalinan identitas dan ras...

Langit Karakas: Simfoni Operasi 300 Menit

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Langit Karakas meradang dalam sunyi Semuanya gelap, namun tak sekadar hampa. Seratus lima puluh pesawat menari tanpa jejak Melintasi malam dengan sayap-sayap hantu Dari Florida, dari pulau-pulau terisolasi Suara mesin mereka bernyanyi dalam konspirasi Bergabung di satu titik dalam harmoni maut Satu detik, satu tarikan napas, simfoni tanpa cela. Orkestrasi Angkasa, simfoni tanpa konduktor E-3 Sentry, sang tokoh piringan jamur, memimpin gelombang Menyibak gelombang radar, menjadi maestro bayang-bayang. Di bawahnya, sang penyelinap agung, F-35 Bukan sekadar pemburu, tapi mata tanpa kelopak Mendengar denyut sinyal musuh, membisikkan rahasia ke udara. Di kejauhan, EA-18G Growler memainkan lagu tanpa nada Menghantam gelombang elektronik, membelah sunyi Radar pun terjerat dalam kabut kebutaan Layar memutih, kosong, seperti jiwa yang terlepas kendali. Terbitlah resimen malam, Night Stalkers yang tak kenal lelah Mensiasati ombak, menyelusup seperti bayang-bay...

Jejak Sunyi Operation Absolute Resolve

Gambar
#puisiesai Karya: Eko Windarto  Di balik kabut malam berlapis rahasia Kala bintang tertutup rona samudra kelam Muncul sebuah bisikan, operasi tanpa gema, “Absolute Resolve,” nama laung sunyi yang menggetarkan. Bulan-bulan terajut dalam waktu tersembunyi Rencana dijalin tanpa suara Pasukan elit dilatih, bagai bayang-bayang di tepi samudra Armada tempur bergerak dalam lengang, menembus langit sunyi. Di awal Januari serangan senyap itu tiba Tetes darah jatuh, duka bertabur dalam diam Empat puluh jiwa gugur dalam debu perjuangan Pengawal setia terluka Nafas terakhir membisu dalam seribu bahasa  Donald Trump berseru, "hukum adalah pedang!"  Mengayun tajam kepada rezim yang menari di atas narko-teror Maduro dan Cilia Flores, dibawa angin menuju Mahkota Keadilan Pijakan kaki mengarungi ruang sidang New York, pengadilan menggema. Di kancah dunia yang bergemuruh Sebuah pertarungan baru terasa membara Kedaulatan terguncang dalam badai politik Dunia menatap, kecaman meng...

Sunyi Setelah Badai: Kisah Petani Kopi Gayo

Gambar
#puisiesai Karya: Eko Windarto  Ada tabir senja turun perlahan, mematikan lampu-lampu gemerlap di ujung cakrawala. Suara sorak sorai relawan lamat sirna. Debur ombak yang tergerus waktu. Algoritma bencana, sang pengaduk perhatian, telah berpaling pada hal baru gemerlap cahaya. Petir berita berhenti berdentang, menyisakan sunyi yang memeluk luka. Di sanubari kami, terpatri bayang filosofi. Sejuta kaki kecil menjejak lumpur basah oleh air mata. Ayah dan ibu mendamba pelangi pasca hujan badai, namun, langit hanya serupa kanvas kelabu tiada bertepi. Kopi, bukan sekadar ruang aroma dan rasa, Ia adalah garis darah mengaliri kampung, Madrasah sejarah tempat anak-anak menimba ilmu, Simfoni pagi, sorak petani yang menari bersama dendang embun pagi. Namun, banjir menyapu pohon-pohon harapan. Akar-akarnya terkubur dalam pelukan lumpur dingin yang sunyi. Lima musim menanti, bisu dalam peluh, satu per satu tahun jatuh tanpa embun keberuntungan. Modal hanyut, seperti daun yang dibawa...