Postingan

Makan Bergizi Gratis: Lebih dari Sekadar Kenyang

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Program makan bergizi gratis sering dianggap sebagai cara sederhana untuk mengatasi masalah lapar anak-anak di sekolah. Namun, kenyataannya jauh lebih dalam. Makan bergizi bukan hanya mengisi perut, tapi soal keamanan pangan, edukasi gizi, dan investasi masa depan bangsa. Sebagai orang tua dan jurnalis, saya mengajak kita semua untuk memandang program ini dengan lebih serius demi generasi yang sehat dan cerdas. Kalau bicara soal makan bergizi gratis di sekolah, banyak yang langsung mengaitkan ini dengan “anak-anak lapar jadi kenyang.” Ya, itu memang penting. Tapi, kalau cuma kenyang doang tanpa mikirin kualitas dan keamanan makanan, apakah cukup? Jangan-jangan kita cuma menutupi masalah dengan solusi sementara yang tampaknya manis di permukaan. Kenyang Itu Penting, Tapi Bergizi dan Aman Itu Wajib Bayangkan kalau anak-anak kita hanya diberi makanan apa saja asal boleh masuk ke perut. Nutrisi kurang, atau malah ada bahan berbahaya dalam makanan itu, bu...

Sujud Rindu: Tarian Cinta Ilahi

Gambar
Karya: Eko Windarto  Sujud Rindu, tarian lembut menguntai tasbih Bak kelopak mawar menari dalam bisu munajat Langkahnya bagai sungai mengaliri sawah-sawahNya Menguntai makna, menyulam benang-benang cintaNya Berbalut sutra rindu yang berkilau lembut, Alunan musik laksana desir angin di lembah taqwa Tanganmu menari, bagai rama-rama mengepak sayap kasihNya Laksana embun yang jatuh di pucuk daun pagi, menyucikan jiwa Setiap lekukkan tubuhmu adalah ayat suci yang tak pernah pudar Biarlah tarian ini menjadi mihrab rahasia Tempat doa-doa menari bersama cintaNya yang tak pernah usai Batu, 18 Januari 2026 Catatan:  Puisi di atas dibacakan santri dan santriwati waktu Haflah Akhirussanah

Wakil Presiden RI ke-6 Try Sutrisno Tutup Usia, Keinginan Akhir Meninggal di Rumah Tercapai

Gambar
Jakarta, 2 Maret 2026 — Bangsa Indonesia kembali berduka atas berpulangnya Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, Try Sutrisno, yang meninggal dunia pada pagi hari ini pada usia 90 tahun. Almarhum menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 06.58 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Putra Try Sutrisno, Ir. Taufik Dwi Cahyono M.Sc, A.E, mengungkapkan bahwa sang ayah sempat menyatakan keinginan untuk mengakhiri hidupnya di rumah, sebuah harapan yang akhirnya bisa terwujud meskipun menjelang akhir hayatnya harus mendapat perawatan di rumah sakit.  “Ayah saya tetap berjuang demi negara sampai detik terakhir,” ujar Taufik saat memberikan keterangan di RSPAD. Jenazah Try Sutrisno saat ini disemayamkan di rumah duka yang berlokasi di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat. Rencananya, almarhum akan dimakamkan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, pada Senin siang hari ini.  Sebelum pemak...

Mokel, Godin, dan Istilah Puasa yang Bikin Ramadhan Makin Seru: Memahami Tradisi dan Bahasa Gaul di Bulan Suci

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Ramadhan bukan cuma tentang menahan lapar dan dahaga, tapi juga kaya akan tradisi serta istilah unik yang muncul dan melekat di masyarakat kita. Tahun 2026 ini, istilah-istilah seperti mokel, mokeh, godin, hingga tempus kembali ramai dibicarakan. Apa sebenarnya makna di balik kata-kata tersebut? Mari kita ulas dengan gaya santai dan reflektif, sekaligus sedikit humor agar puasa kita tidak sekadar berhenti di perut yang lapar, tetapi juga di pikiran yang segar dan jiwa yang ringan. Bahasa Puasa: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar Setiap Ramadhan, masyarakat Indonesia tak hanya sibuk menyiapkan takjil atau tarawih, tapi juga tanpa sadar menggunakan beragam istilah yang berputar di lingkar sosial dan budaya. Bahasa adalah cermin dari jiwa kolektif, dan kata-kata seperti mokel dan godin adalah contoh nyata bagaimana bahasa lokal dan gaul saling mempengaruhi, memberi warna tersendiri dalam tradisi puasa. Menurut data survei kebudayaan lokal yang dilakukan o...

Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Fenomena Alam yang Meluas dan Mengundang Perhatian

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Fenomena lubang raksasa yang terjadi di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, tengah menjadi sorotan publik dan ilmuwan. Bukan lubang biasa yang sering kita temui di jalanan, lubang ini memiliki ukuran yang luar biasa besar—menjangkau lebih dari 30.000 meter persegi atau sekitar 3 hektare. Lubang yang terus meluas ini mengancam permukiman warga di sekitar kampung Pondok Balik. Lokasi yang sekitar 43 kilometer dari pusat kota ini, jika ditempuh dengan mobil, perlu waktu sekitar satu jam. Namun waktu tempuh bukanlah satu-satunya hal yang membuat fenomena ini mencuri perhatian; keunikan dan risiko yang dibawa lubang ini jauh lebih krusial bagi masyarakat dan pemerintah setempat. Riwayat Pergerakan Tanah yang Terus Berlanjut Sejarah pergerakan tanah di wilayah ini telah tercatat sejak tahun 2011. Selama lebih dari satu dekade, tanah longsor yang terjadi terus menunjukkan perkembangan serius dengan memperlebar area terd...

Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Nyanyian Tanah yang Menganga

Gambar
Karya: Eko Windarto  Di balik sunyi Desa Pondok Balik, terhampar luka bumi yang terus merengsek. Dalam lekuk tanah yang merekah, cerita panjang bergulir tanpa kata. Sejak tahun dua ribu sebelas, tanah bersuara dalam gerak, menghidupkan lukisan alam yang perlahan menganga. Meluas ia, menyapu ruang tiga hektare penuh harap, mengancam permukiman, menanti langkah manusia. Bukan sekadar lubang biasa, bukanlah gelap amblesan, melainkan pergerakan tanah yang dalam dan halus bisikannya. Tim geologi dan BPBD menelisik dalam kesabaran, membaca tiap retak, mencari makna di dasar keberadaan. Aceh Tengah pun terjaga, waspada dalam doa dan usaha, merangkul bumi dengan ilmu, menghindari bencana yang menimpa. Kampung Pondok Balik menanti kejelasan musim, dan kita diajak mendengar: bagaimana bumi bernyanyi dalam sunyi ini. Lubang raksasa bukan sekadar lubang, ia adalah nyanyian, undangan, dan peringatan. Maka marilah kita dengar, resapi dan renungkan, agar bumi dan manusia tetap berpelu...

Didong di Tengah Luka: Sebuah Refleksi Sosiologis tentang Seni, Trauma, dan Solidaritas

Gambar
Oleh: Eko Windarto Puisi “Didong di Tengah Luka” merupakan ungkapan puitis yang menggambarkan bagaimana tradisi budaya Didong bukan sekadar hiburan, melainkan sarana kritis dalam proses pemulihan sosial dan psikologis masyarakat Gayo pasca bencana. Dengan pendekatan sosiologi, tulisan ini menguraikan secara rinci bagaimana seni dan budaya berperan sebagai perekat sosial, medium menghidupkan memori kolektif, serta sumber kekuatan dalam mengatasi trauma, mengembalikan identitas dan memperteguh solidaritas komunitas. Didong di Tengah Luka Karya: LK Ara Malam turun seperti kain hitam yang menutup luka bumi Gayo. Angin membawa sisa-sisa tangis, dan lampu darurat menggantung seperti bintang yang kelelahan. Di antara tenda dan tanah yang retak, anak-anak duduk melingkar. Mata mereka menyimpan tanya yang belum sempat dijawab waktu. Lalu seorang lelaki bersila di tengah lingkaran itu. Dr. Rasyidin— bukan membawa pidato, bukan membawa teori kampus, tetapi membawa tepuk tangan dan nap...