JEJAK Gus Dur: DEMOKRASI, KENEGARAAN, dan PLURALISME
Puisi esai di bawah ini, besok, Jumat, 9/1/2026 akan saya bacakan di acara Haul Gus Dur di Aula NU, Kota Batu Karya: Eko Windarto Dalam hening yang merentang Jakarta menyulam malam Haul ke-16 Gus Dur menjadi bait puisi, menebarkan makna dalam kalbu bangsa Di sana, Mahfud MD berdiri, bukan sekadar insan, namun penjaga waktu Mengurai benang demokrasi yang kusut, merajut kembali harapan kenegaraan Memetik nada pluralisme, seperti angin yang mengusap lembut dedaunan keberagaman Dalam pangkuan kota yang tak pernah tidur, gema suara-suara berkumpul dalam doa Menteri Agama Nasaruddin Umar, sang penuntun jiwa, membisikkan kesucian jiwa Ketua DPD Sultan Bachtiar dan Ganjar Pranowo pemikul amanah tanah dan rakyat, laksana embun pagi yang menyapa harapan baru Dan Kardinal Suharyo, suara lintas iman, menari dalam simfoni hakikat kemanusiaan. Demokrasi bukan sekadar nama Ia adalah sungai yang mengalir jernih seperti cahaya Membawa kehidupan dalam riak-riakny...