Bisikan Bayang yang Menggugat

Karya: Eko Windarto 

Dalam hening malam,
Netanyahu mengirimkan panah kata—tajam, melesat tanpa ampun,
“Waspadalah, Mojtaba, karena bayangku mengintai di setiap helai angin.”

Ancaman bukan sekadar suara, melainkan gerimis hujan yang tetesannya menusuk kulit,
semacam bisikan duri yang menggores nalar dan meremas jiwa.

Di ujung samudra demokrasi, Trump mempersiapkan badai pembunuhan—
operasi bayangan dengan palu besi yang dapat pecah kapan saja,
seakan peta dunia adalah panggung sandiwara, dan kita hanya lakon kecil yang terpaksa menari.

Dari layar kaca, Mojtaba muncul seperti fajar yang menggenggam obor keberanian—
“Bangkitlah, nakhoda perlawanan, karena laut ini bukan untuk ditaklukkan.”

Selat Hormuz bukan sekadar air yang mengalir, tapi sebuah denyut nadi yang bisa mematahkan rantai tirani.

"Poros Perlawanan,” ia serukan, seperti mantra yang melingkar di angkasa,
mengikat langit dan bumi dengan tali perasaan dan semangat yang lekas menyala.

Ia memahat masa depan dengan kalimat yang membara,
menyalakan bara yang takkan pernah padam oleh hujan ancaman.

Apakah perang hanya tentang deru meriam dan dentum bom?
Ia adalah sajak yang terukir dalam darah dan tangis,
sebuah lukisan yang tak bisa dilenyapkan oleh waktu,
tempat di mana kata-kata menjadi senjata dan doa menjadi tameng.

Ketika pembunuhan di atas meja perundingan menjadi opsi,
maka seakan dunia menari di tepian jurang kegelapan—
di sana tersimpan tanya besar:
Apakah kita manusia yang mendamba damai, atau pecundang yang terperangkap dalam lingkaran perang?

Kita, penonton dunia yang memandang layar kecil dan besar,
apakah cukup bijak merenungi arti dari ledakan dan perlawanan ini?

Ataukah kita hanyalah pasir yang dihembus angin badai sejarah?

Damai bukan hampa tanpa suara,
melainkan simfoni lembut yang lahir dari keberanian untuk mendengar,
dari kerendahan hati yang mampu membuka ruang bagi kehangatan dan pengertian,
lebih dari sekadar ladang peperangan dan senjata panas.

Batu, 1332026

Catatan:

Puisi esai ini didramatisasikan dari jurnal-jurnal hubungan Internasional dan pemberitaan dari BBC dan CNN.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni