Postingan

Harmoni dalam Perbedaan: Dua HUT NU dan Nuansa Politik di Malang

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Hari Sabtu dan Minggu, 8/2/2026, Malang menjadi saksi festival besar umat Nahdlatul Ulama (NU) dalam peringatan Mujahadah Akbar seribu purnama berdirinya organisasi yang kini genap berusia 100 tahun—versi kalender Masehi.  Suasana kota ini dipenuhi gelombang kepedulian dan solidaritas antar umat beragama. Gereja Katolik Katedral bahkan mengurangi misa dari enam kali menjadi dua kali demi memberi ruang pada acara besar NU. Sekolah dan masjid Muhammadiyah Malang pun membuka pintu untuk pengunjung dari luar kota. Bahkan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) menyiapkan layanan singgah lengkap dengan makanan dan minuman, semua demi NU. Bukti nyata persaudaraan antarumat beragama di Kota Apel. Uniknya, perhelatan besar ini bukan yang pertama. Pekan lalu, di Jakarta, NU juga merayakan ulang tahun ke-100 tahun lahirnya organisasi ini dengan megah di Istora Senayan. Dua acara di dua kota, dua waktu, dan ada dua sosok berbeda yang “memimpin” NU: Gus Yahya di J...

Bentuk Wujud Kepedulian: Hasil Penjualan Merchandise BRAIN WASH untuk Penyandang Disabilitas

Gambar
Personil band underground punk rock BRAIN WASH, saat memberikan bantuan kepada pengamen penyandang disabilitas, Eko Pramono.  Dalam dunia musik underground yang keras dan penuh semangat, band punk rock BRAIN WASH hadir bukan sekadar sebagai penyuaranya yang garang, melainkan juga sebagai penggerak jiwa kemanusiaan. Melalui penjualan merchandise kaos, mereka menyalurkan hasilnya kepada penyandang disabilitas, membuktikan bahwa di balik dentuman keras musik punk, tersimpan empati yang mendalam dan upaya nyata untuk memberikan ruang berekspresi bagi mereka yang sering terlupakan, Sabtu, 7/2/2026. Di balik dentum drum dan suara khas gitar listrik yang menghentak, terkadang tersembunyi kisah kemanusiaan yang sarat makna.  BRAIN WASH, band punk rock underground yang memiliki akar kuat di skena musik alternatif, membuktikan bahwa musik bukan sekadar alat ekspresi diri tetapi juga medium kepedulian dan empati.  Melalui hasil penjualan merchandise kaos mereka, para per...

Gempa di Pacitan: Menggetarkan Bumi, Menyentuh Jiwa

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Dari kedalaman lautan selatan Jawa, getaran mengguncang Pacitan dini hari itu.  Dengan megahnya lempeng bumi menari, mencipta gempa yang bukan sekadar angka—melainkan cerita manusia, rasa, dan alam yang berdialektika.  Sebuah puisi esai hadir untuk merenungkan getaran yang tak hanya menggoyang tanah, tapi juga jiwa kita. Dalam senyap malam yang pelan, jam satu lewat enam menit, bumi Pacitan bergetar, sebuah isyarat antara lempeng terhampar. Enam koma empat—atau enam koma dua, angka yang bertarung, menggugah jiwa dalam kedalaman lima puluh delapan kilometer. Di bawah laut, sembilan puluh kilometer dari daratan, Episenter berbisik, 8,98 derajat ke selatan, 111,18 ke timur—titik yang hening namun penuh gelora. Lempeng bumi seperti pengepung raksasa, subduksi yang menari, mengirim gelombang naik, mekanisme sesar yang memicu cerita. Gempa ini bukan sekadar guncang, tapi dialog alam, hingga terasa sampai jepara, utara Jawa yang jauh nan teduh. Ra...

Kesunyian Anak di Batas Senja

Gambar
Karya: Eko Windarto  Dalam keheningan sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, sebuah kisah pilu terukir—seorang siswa SD bernama YBR, berusia sepuluh tahun, mengakhiri hidupnya. Dalam secarik kertas kecil, tersirat asa dan beban yang tak terkatakan: buku dan pulpen sebagai kebutuhan sederhana tapi berarti.  Kisah ini membuka mata kita pada luka terdalam dunia pendidikan dan sosial, yang luput dari perhatian.  Puisi esai ini mencoba merangkum rasa duka dan refleksi atas peristiwa tersebut, mengajak kita merenung tentang perlunya kepekaan dan perhatian sejati bagi setiap anak di pelosok negeri. Di balik hijau ladang dan bambu berdiri tegak Terselip kisah senyap dari seorang bocah kecil—YBR namanya Sepuluh tahun usianya, hidupnya sederhana Namun beban di pundaknya, lebih berat dari masa depan yang ia dambakan. Pulpen dan buku—lembaga kecil harapan sekolah Tersurat dalam fragmen tulisan tangan yang sunyi Sebuah permohonan tanpa suara, tanpa teriak Menjadi saksi bisu d...

KETULUSAN DI TENGAH LUKA

Gambar
Karya: Eko Windarto  Di rumah luka yang atapnya bocor, lilin masih menyala, ketulusan datang bukan karena banjir bandang, tapi karena hati yang bercahaya. Ketulusan kadang lahir di tengah lumpur, di antara gelondongan kayu yang patah, di bumi yang kehilangan pegangan tua, kini patah berkeping-keping, di antara perut menahan lapar yang menua. Hari-hari terasa panjang, seakan waktu berjalan lambat dan pincang, perut lapar masih tahu dari bunyinya, sebab mereka pandai menjaga, seperti menjaga anak sendiri. Di tengah luka yang tak kunjung usai, ketulusan masih bersinar, seperti puisi yang tak pernah padam, bercahaya di antara kesulitan dan penderitaan, menerangi kegelapan jiwa dan raga, menjadi cahaya di tengah malam yang gelap. Batu, 29122025

JEJAK Gus Dur: DEMOKRASI, KENEGARAAN, dan PLURALISME

Gambar
Karya: Eko Windarto  Dalam hening yang merentang Jakarta menyulam malam Haul ke-16 Gus Dur menjadi bait puisi, menebarkan makna dalam kalbu bangsa Di sana, Mahfud MD berdiri, bukan sekadar insan, namun penjaga waktu Mengurai benang demokrasi yang kusut, merajut kembali harapan kenegaraan Memetik nada pluralisme, seperti angin yang mengusap lembut dedaunan keberagaman Dalam pangkuan kota yang tak pernah tidur, gema suara-suara berkumpul dalam doa  Menteri Agama Nasaruddin Umar, sang penuntun jiwa, membisikkan kesucian jiwa Ketua DPD Sultan Bachtiar dan Ganjar Pranowo pemikul amanah tanah dan rakyat, laksana embun pagi yang menyapa harapan baru Dan Kardinal Suharyo, suara lintas iman, menari dalam simfoni hakikat kemanusiaan. Demokrasi bukan sekadar nama Ia adalah sungai yang mengalir jernih seperti cahaya  Membawa kehidupan dalam riak-riaknya yang tak selalu tenang Kenegaraan bukan hanya tentang batas dan hukum Namun tentang jiwa besar melangkah tanpa bara Plu...

JEJAK Gus Dur: DEMOKRASI, KENEGARAAN, dan PLURALISME

Gambar
Karya: Eko Windarto  Dalam hening yang merentang Jakarta menyulam malam Haul ke-16 Gus Dur menjadi bait puisi, menebarkan makna dalam kalbu bangsa Di sana, Mahfud MD berdiri, bukan sekadar insan, namun penjaga waktu Mengurai benang demokrasi yang kusut, merajut kembali harapan kenegaraan Memetik nada pluralisme, seperti angin yang mengusap lembut dedaunan keberagaman Dalam pangkuan kota yang tak pernah tidur, gema suara-suara berkumpul dalam doa  Menteri Agama Nasaruddin Umar, sang penuntun jiwa, membisikkan kesucian jiwa Ketua DPD Sultan Bachtiar dan Ganjar Pranowo pemikul amanah tanah dan rakyat, laksana embun pagi yang menyapa harapan baru Dan Kardinal Suharyo, suara lintas iman, menari dalam simfoni hakikat kemanusiaan. Demokrasi bukan sekadar nama Ia adalah sungai yang mengalir jernih seperti cahaya  Membawa kehidupan dalam riak-riaknya yang tak selalu tenang Kenegaraan bukan hanya tentang batas dan hukum Namun tentang jiwa besar melangkah tanpa bara Plu...