Postingan

Menyambut Ramadhan: Persiapan Spiritual untuk Bulan Penuh Berkah

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Ramadhan bukan sekadar waktu menahan lapar dan haus, tapi momentum emas untuk memperbaiki diri secara spiritual. Artikel ini membahas cara-cara mempersiapkan jiwa dan raga menjelang Ramadhan, mulai dari meluruskan niat, memperbanyak taubat, membiasakan ibadah sunnah, hingga memahami keutamaan dan fikih puasa. Dengan pendekatan yang ringan namun bermakna, mari kita sambut Ramadhan dengan semangat baru dan hati yang bersih. Ramadhan adalah waktu di mana pintu ampunan terbuka lebar, saat berkah dan rahmat melimpah ruah, dan ketika setiap detik terasa penuh makna. Tapi, bagaimana sih sebaiknya kita menyambut bulan suci ini agar tidak sekadar lewat begitu saja tanpa manfaat besar? Yuk, kita gali bersama beberapa langkah bijak untuk persiapan menyambut Ramadhan secara spiritual. Meluruskan Niat: Kunci Awal Mengawali Ramadhan Sebelum puasa dimulai, ada satu hal yang tak boleh luput dari perhatian: niat. Niat yang lurus ibarat benih yang akan tumbuh menjadi ...

Selamat Haflah Akhirussanah PP. Bahrul Mutadhin! Merayakan Jejak Cahaya Santri Madin dan TPQ

Gambar
Dalam gemuruh doa dan syair lembut malam, PP. Bahrul Mutadhin kembali menggelar perhelatan nan penuh makna: Haflah Akhirussanah. Sebuah taman cahaya di mana santri Madin dan TPQ berdiri, menorehkan kisah perjuangan dan tuntas pembelajaran dengan gemilang, Minggu, 15/2/2026. Di tengah derasnya arus dunia yang kian cepat, tradisi haflah akhirussanah tetap bertahan sebagai oase ruhani.  Acara ini bukan semata sekadar perayaan, melainkan simbol dari perjalanan panjang penuh ketekunan dan kesabaran para santri yang telah menuntaskan tahap pembelajaran mereka. Mereka adalah bintang-bintang kecil yang menyalakan langit pengetahuan agama, membawa harapan dan impian keluarga serta lembaga. Santri Madin dan TPQ, dengan segala dedikasi dan semangatnya, menorehkan tinta emas di lembar sejarah pesantren.  Haflah ini pun menjadi momentum apresiasi, bukan hanya bagi para santri, tetapi juga bagi para guru dan pembimbing yang tak kenal lelah membimbing – se...

Harmoni dalam Perbedaan: Dua HUT NU dan Nuansa Politik di Malang

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Hari Sabtu dan Minggu, 8/2/2026, Malang menjadi saksi festival besar umat Nahdlatul Ulama (NU) dalam peringatan Mujahadah Akbar seribu purnama berdirinya organisasi yang kini genap berusia 100 tahun—versi kalender Masehi.  Suasana kota ini dipenuhi gelombang kepedulian dan solidaritas antar umat beragama. Gereja Katolik Katedral bahkan mengurangi misa dari enam kali menjadi dua kali demi memberi ruang pada acara besar NU. Sekolah dan masjid Muhammadiyah Malang pun membuka pintu untuk pengunjung dari luar kota. Bahkan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) menyiapkan layanan singgah lengkap dengan makanan dan minuman, semua demi NU. Bukti nyata persaudaraan antarumat beragama di Kota Apel. Uniknya, perhelatan besar ini bukan yang pertama. Pekan lalu, di Jakarta, NU juga merayakan ulang tahun ke-100 tahun lahirnya organisasi ini dengan megah di Istora Senayan. Dua acara di dua kota, dua waktu, dan ada dua sosok berbeda yang “memimpin” NU: Gus Yahya di J...

Bentuk Wujud Kepedulian: Hasil Penjualan Merchandise BRAIN WASH untuk Penyandang Disabilitas

Gambar
Personil band underground punk rock BRAIN WASH, saat memberikan bantuan kepada pengamen penyandang disabilitas, Eko Pramono.  Dalam dunia musik underground yang keras dan penuh semangat, band punk rock BRAIN WASH hadir bukan sekadar sebagai penyuaranya yang garang, melainkan juga sebagai penggerak jiwa kemanusiaan. Melalui penjualan merchandise kaos, mereka menyalurkan hasilnya kepada penyandang disabilitas, membuktikan bahwa di balik dentuman keras musik punk, tersimpan empati yang mendalam dan upaya nyata untuk memberikan ruang berekspresi bagi mereka yang sering terlupakan, Sabtu, 7/2/2026. Di balik dentum drum dan suara khas gitar listrik yang menghentak, terkadang tersembunyi kisah kemanusiaan yang sarat makna.  BRAIN WASH, band punk rock underground yang memiliki akar kuat di skena musik alternatif, membuktikan bahwa musik bukan sekadar alat ekspresi diri tetapi juga medium kepedulian dan empati.  Melalui hasil penjualan merchandise kaos mereka, para per...

Gempa di Pacitan: Menggetarkan Bumi, Menyentuh Jiwa

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Dari kedalaman lautan selatan Jawa, getaran mengguncang Pacitan dini hari itu.  Dengan megahnya lempeng bumi menari, mencipta gempa yang bukan sekadar angka—melainkan cerita manusia, rasa, dan alam yang berdialektika.  Sebuah puisi esai hadir untuk merenungkan getaran yang tak hanya menggoyang tanah, tapi juga jiwa kita. Dalam senyap malam yang pelan, jam satu lewat enam menit, bumi Pacitan bergetar, sebuah isyarat antara lempeng terhampar. Enam koma empat—atau enam koma dua, angka yang bertarung, menggugah jiwa dalam kedalaman lima puluh delapan kilometer. Di bawah laut, sembilan puluh kilometer dari daratan, Episenter berbisik, 8,98 derajat ke selatan, 111,18 ke timur—titik yang hening namun penuh gelora. Lempeng bumi seperti pengepung raksasa, subduksi yang menari, mengirim gelombang naik, mekanisme sesar yang memicu cerita. Gempa ini bukan sekadar guncang, tapi dialog alam, hingga terasa sampai jepara, utara Jawa yang jauh nan teduh. Ra...

Kesunyian Anak di Batas Senja

Gambar
Karya: Eko Windarto  Dalam keheningan sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, sebuah kisah pilu terukir—seorang siswa SD bernama YBR, berusia sepuluh tahun, mengakhiri hidupnya. Dalam secarik kertas kecil, tersirat asa dan beban yang tak terkatakan: buku dan pulpen sebagai kebutuhan sederhana tapi berarti.  Kisah ini membuka mata kita pada luka terdalam dunia pendidikan dan sosial, yang luput dari perhatian.  Puisi esai ini mencoba merangkum rasa duka dan refleksi atas peristiwa tersebut, mengajak kita merenung tentang perlunya kepekaan dan perhatian sejati bagi setiap anak di pelosok negeri. Di balik hijau ladang dan bambu berdiri tegak Terselip kisah senyap dari seorang bocah kecil—YBR namanya Sepuluh tahun usianya, hidupnya sederhana Namun beban di pundaknya, lebih berat dari masa depan yang ia dambakan. Pulpen dan buku—lembaga kecil harapan sekolah Tersurat dalam fragmen tulisan tangan yang sunyi Sebuah permohonan tanpa suara, tanpa teriak Menjadi saksi bisu d...

KETULUSAN DI TENGAH LUKA

Gambar
Karya: Eko Windarto  Di rumah luka yang atapnya bocor, lilin masih menyala, ketulusan datang bukan karena banjir bandang, tapi karena hati yang bercahaya. Ketulusan kadang lahir di tengah lumpur, di antara gelondongan kayu yang patah, di bumi yang kehilangan pegangan tua, kini patah berkeping-keping, di antara perut menahan lapar yang menua. Hari-hari terasa panjang, seakan waktu berjalan lambat dan pincang, perut lapar masih tahu dari bunyinya, sebab mereka pandai menjaga, seperti menjaga anak sendiri. Di tengah luka yang tak kunjung usai, ketulusan masih bersinar, seperti puisi yang tak pernah padam, bercahaya di antara kesulitan dan penderitaan, menerangi kegelapan jiwa dan raga, menjadi cahaya di tengah malam yang gelap. Batu, 29122025