Di Antara Perang dan Damai: Refleksi Konflik Iran-Amerika”
Karya: Eko Windarto Di bawah langit yang memerah oleh kabut senja Masoud Pezeshkian berdiri, megah dan tegar, mengangkat tiga syarat—seperti mantra dan doa, hak yang dulu hilang, ganti rugi yang terlupakan, janji ketenangan yang harus diikat dalam perjanjian dunia. Sejak 28 Februari, dunia bagai bola api yang meledak-ledak. Seribu dua ratus nyawa hilang bagaikan butiran pasir Jeritan mereka menggema di lembah waktu Namun, di balik pidato kemenangan Donald Trump, terdengar dentuman peluru belum bernyanyi habis. Apa arti ‘kemenangan’ ketika darah masih mengalir? Apakah ia seperti bayangan yang menari di dinding, indah namun hampa, nyata tapi palsu? Perang ini bukan sekadar duel senjata Ia adalah perang diam di ruang-ruang hati Perang jiwa yang retak oleh dendam dan luka Di antara kehancuran, suara-suara terpinggirkan menuntut Putri Bung Hatta dan istri Munir mendesak solidaritas Namun apakah kita hanya mampu menyimak? Ataukah kita berani membuka mata kita? Melihat ...