Gempa di Pacitan: Menggetarkan Bumi, Menyentuh Jiwa
Oleh: Eko Windarto Dari kedalaman lautan selatan Jawa, getaran mengguncang Pacitan dini hari itu. Dengan megahnya lempeng bumi menari, mencipta gempa yang bukan sekadar angka—melainkan cerita manusia, rasa, dan alam yang berdialektika. Sebuah puisi esai hadir untuk merenungkan getaran yang tak hanya menggoyang tanah, tapi juga jiwa kita. Dalam senyap malam yang pelan, jam satu lewat enam menit, bumi Pacitan bergetar, sebuah isyarat antara lempeng terhampar. Enam koma empat—atau enam koma dua, angka yang bertarung, menggugah jiwa dalam kedalaman lima puluh delapan kilometer. Di bawah laut, sembilan puluh kilometer dari daratan, Episenter berbisik, 8,98 derajat ke selatan, 111,18 ke timur—titik yang hening namun penuh gelora. Lempeng bumi seperti pengepung raksasa, subduksi yang menari, mengirim gelombang naik, mekanisme sesar yang memicu cerita. Gempa ini bukan sekadar guncang, tapi dialog alam, hingga terasa sampai jepara, utara Jawa yang jauh nan teduh. Ra...