Didong di Tengah Luka: Sebuah Refleksi Sosiologis tentang Seni, Trauma, dan Solidaritas
Oleh: Eko Windarto Puisi “Didong di Tengah Luka” merupakan ungkapan puitis yang menggambarkan bagaimana tradisi budaya Didong bukan sekadar hiburan, melainkan sarana kritis dalam proses pemulihan sosial dan psikologis masyarakat Gayo pasca bencana. Dengan pendekatan sosiologi, tulisan ini menguraikan secara rinci bagaimana seni dan budaya berperan sebagai perekat sosial, medium menghidupkan memori kolektif, serta sumber kekuatan dalam mengatasi trauma, mengembalikan identitas dan memperteguh solidaritas komunitas. Didong di Tengah Luka Malam turun seperti kain hitam yang menutup luka bumi Gayo. Angin membawa sisa-sisa tangis, dan lampu darurat menggantung seperti bintang yang kelelahan. Di antara tenda dan tanah yang retak, anak-anak duduk melingkar. Mata mereka menyimpan tanya yang belum sempat dijawab waktu. Lalu seorang lelaki bersila di tengah lingkaran itu. Dr. Rasyidin— bukan membawa pidato, bukan membawa teori kampus, tetapi membawa tepuk tangan dan napas tradisi. Ta...