Postingan

Kesunyian Anak di Batas Senja

Gambar
Karya: Eko Windarto  Dalam keheningan sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, sebuah kisah pilu terukir—seorang siswa SD bernama YBR, berusia sepuluh tahun, mengakhiri hidupnya. Dalam secarik kertas kecil, tersirat asa dan beban yang tak terkatakan: buku dan pulpen sebagai kebutuhan sederhana tapi berarti.  Kisah ini membuka mata kita pada luka terdalam dunia pendidikan dan sosial, yang luput dari perhatian.  Puisi esai ini mencoba merangkum rasa duka dan refleksi atas peristiwa tersebut, mengajak kita merenung tentang perlunya kepekaan dan perhatian sejati bagi setiap anak di pelosok negeri. Di balik hijau ladang dan bambu berdiri tegak Terselip kisah senyap dari seorang bocah kecil—YBR namanya Sepuluh tahun usianya, hidupnya sederhana Namun beban di pundaknya, lebih berat dari masa depan yang ia dambakan. Pulpen dan buku—lembaga kecil harapan sekolah Tersurat dalam fragmen tulisan tangan yang sunyi Sebuah permohonan tanpa suara, tanpa teriak Menjadi saksi bisu d...

KETULUSAN DI TENGAH LUKA

Gambar
Karya: Eko Windarto  Di rumah luka yang atapnya bocor, lilin masih menyala, ketulusan datang bukan karena banjir bandang, tapi karena hati yang bercahaya. Ketulusan kadang lahir di tengah lumpur, di antara gelondongan kayu yang patah, di bumi yang kehilangan pegangan tua, kini patah berkeping-keping, di antara perut menahan lapar yang menua. Hari-hari terasa panjang, seakan waktu berjalan lambat dan pincang, perut lapar masih tahu dari bunyinya, sebab mereka pandai menjaga, seperti menjaga anak sendiri. Di tengah luka yang tak kunjung usai, ketulusan masih bersinar, seperti puisi yang tak pernah padam, bercahaya di antara kesulitan dan penderitaan, menerangi kegelapan jiwa dan raga, menjadi cahaya di tengah malam yang gelap. Batu, 29122025

JEJAK Gus Dur: DEMOKRASI, KENEGARAAN, dan PLURALISME

Gambar
Karya: Eko Windarto  Dalam hening yang merentang Jakarta menyulam malam Haul ke-16 Gus Dur menjadi bait puisi, menebarkan makna dalam kalbu bangsa Di sana, Mahfud MD berdiri, bukan sekadar insan, namun penjaga waktu Mengurai benang demokrasi yang kusut, merajut kembali harapan kenegaraan Memetik nada pluralisme, seperti angin yang mengusap lembut dedaunan keberagaman Dalam pangkuan kota yang tak pernah tidur, gema suara-suara berkumpul dalam doa  Menteri Agama Nasaruddin Umar, sang penuntun jiwa, membisikkan kesucian jiwa Ketua DPD Sultan Bachtiar dan Ganjar Pranowo pemikul amanah tanah dan rakyat, laksana embun pagi yang menyapa harapan baru Dan Kardinal Suharyo, suara lintas iman, menari dalam simfoni hakikat kemanusiaan. Demokrasi bukan sekadar nama Ia adalah sungai yang mengalir jernih seperti cahaya  Membawa kehidupan dalam riak-riaknya yang tak selalu tenang Kenegaraan bukan hanya tentang batas dan hukum Namun tentang jiwa besar melangkah tanpa bara Plu...

JEJAK Gus Dur: DEMOKRASI, KENEGARAAN, dan PLURALISME

Gambar
Karya: Eko Windarto  Dalam hening yang merentang Jakarta menyulam malam Haul ke-16 Gus Dur menjadi bait puisi, menebarkan makna dalam kalbu bangsa Di sana, Mahfud MD berdiri, bukan sekadar insan, namun penjaga waktu Mengurai benang demokrasi yang kusut, merajut kembali harapan kenegaraan Memetik nada pluralisme, seperti angin yang mengusap lembut dedaunan keberagaman Dalam pangkuan kota yang tak pernah tidur, gema suara-suara berkumpul dalam doa  Menteri Agama Nasaruddin Umar, sang penuntun jiwa, membisikkan kesucian jiwa Ketua DPD Sultan Bachtiar dan Ganjar Pranowo pemikul amanah tanah dan rakyat, laksana embun pagi yang menyapa harapan baru Dan Kardinal Suharyo, suara lintas iman, menari dalam simfoni hakikat kemanusiaan. Demokrasi bukan sekadar nama Ia adalah sungai yang mengalir jernih seperti cahaya  Membawa kehidupan dalam riak-riaknya yang tak selalu tenang Kenegaraan bukan hanya tentang batas dan hukum Namun tentang jiwa besar melangkah tanpa bara Plu...

Indra: Pengamen Kota Batu yang Mencipta Gitar Akustik Berkualitas

Gambar
Di balik denting merdu gitar akustik yang mengalun, tersimpan kisah Indra, pengamen jalanan Kota Batu yang menganyam mimpi dari serpihan keterbatasan.  Dengan tangan terampil dan jiwa seni, ia menciptakan gitar akustik berkualitas tinggi secara otodidak, memikat hati para musisi underground hingga berharap sentuhan pemerintah untuk menghidupkan usahanya. Di Kota Batu yang sejuk, ada sosok pria bernama Indra, seorang pengamen jalanan dengan rambut gondrong dan senyuman sederhana, yang menyimpan kisah tentang musik dan ketekunan.  Tak sekadar mengalun di sudut-sudut kota dengan gitarnya, ia juga menjelma menjadi perajin gitar akustik, mengubah impian menjadi karya nyata dari kayu dan resonansi. Di sebuah bengkel kecil berdiri di belakang rumahnya di Dusun Prambanan, Desa Gunung Sari, tangan Indra menyentuh tiap lekuk kayu dengan penuh kehangatan dan dedikasi.  Ia memilih kayu terbaik, memahatnya dengan hati-hati, membentuk bodi gitar yang kelak akan menggetarkan...

Bersalaman Sambil Berdendang dan Bergoyang: Tradisi Meriah di Resepsi Pernikahan Adat Batak

Gambar
Oleh: Eko Windarto  Ketika membayangkan sebuah pernikahan adat, kita sering membayangkan suasana khidmat penuh kebersamaan. Namun di pesta pernikahan adat Batak, suasananya jauh lebih hidup dan penuh warna. Tradisi bersalaman sambil bernyanyi dan bergoyang, yang dikenal sebagai marsipanganju atau marsipangalu, bukan hanya ritual formal, melainkan ungkapan kebahagiaan, kebersamaan, dan rasa syukur yang mengalir dari hati setiap peserta pesta. Yuk, kita kupas filosofi dan keunikan tradisi yang satu ini! Sebuah Sambutan yang Lebih dari Sekadar Salam Kalau biasanya kita menganggap bersalaman itu sederhana: jabat tangan dan senyum singkat, maka di pesta pernikahan adat Batak, salam ini mendapatkan ‘bumbu’ yang luar biasa. Bayangkan; tangan yang bersalaman bukan hanya sekadar bertemu, tetapi juga diiringi irama lagu dan goyangan ritmis yang membuat semua orang ikut bergembira. Marsipanganju atau marsipangalu adalah nama tradisi ini—semacam “bersalaman sambil berdendang dan be...

Bersalaman Sambil Berdendang dan Bergoyang

Gambar
Sumber foto: Perpustakaan.id Karya: Eko Windarto  Dalam pesta yang merona, Tangan-tangan bertaut, Bukan sekadar jabat biasa, Melainkan nyanyian yang teruntai bersama irama tanah. Marsipanganju dan Marsipangalu, Nama-nama yang melengkung indah di bibir leluhur, Menyulam senyum dan genggaman, Menari dalam kesejukan kegembiraan yang melebur. Bersalaman bukan hanya salam, Ia adalah bahasa syukur yang melintasi jiwa, Mengikat erat tali saudara di bawah langit yang sama, Dalam gegap gempita suara gendang dan gong yang berdesir. Ada sesuatu yang lebih dari gerak, Lebih dari suara yang bergelora— Sebuah getar dalam dada yang berkata, “Kita hidup bersama dalam harmoni yang tak terucap.” Dari nenek yang meliuk pelan, Hingga anak kecil yang merebah riang, Semua tercampur dalam satu irama yang suci, Menyambungkan masa, kini, dan nanti. Sebuah salam yang menari, Menjembatani hati manusia, Menyulut api hangat kebersamaan, Meleburkan kesunyian menjadi melodi untuk dikenang. Begitulah,...