Dalam Pelukan Gunung Slamet: Ikatan yang Tersulam Air Mata

Oleh: Eko Windarto 

Dhani Rusman, ayah pendaki bernama Syafiq Ridhan Ali Razan (18) yang ditemukan meninggal di Gunung Slamet, Jawa Tengah, berdiri sunyi dan agung,
terpatri cerita tentang rindu terbungkam.

Dhani ayah berbaju duka, menahan pilu tak terucap,
menyatukan hati, menghapus luputnya bayang Syafiq.

Syafiq Ridhan, pemuda pendaki—
yang menapaki jalur kabut dan senyap,
mendaki harapan, merengkuh langit,
tapi ditakdirkan pulang dalam sunyi.

Kala kaki sahabatnya, Himawan, terbelenggu kram,
ia memilih keluar dari gelanggang teduh itu,
mencari nyala api pertolongan di tengah dingin,
menyingkap tirai maut dengan langkah-langkah terakhirnya.

Tapi kala kabar berlabuh dalam hening,
Dhani bergelayut di tepi harapan,
mengulurkan tangan tak sekadar darah dan daging—
melainkan jiwa yang tak terpisahkan oleh dunia fana.

“Himawan, anak dalam pelukanku yang baru,”
bisikannya laksana embun yang memeluk bunga mati,
sebuah ikrar dalam lautan duka,
menganyam kasih dari benang persahabatan sejati.

Puisi ini adalah doa yang bergetar di antara batu dan angin kencang 
tentang bagaimana kehilangan meretas akar kekal,
tentang bagaimana cinta menari dalam guratan luka,
menjadi pelita yang tak pernah redup dalam pekat malam.

Gunung Slamet bukan sekadar saksi bisu,
melainkan pelabuhan jiwa yang merengkuh perjalanan,
di mana seorang ayah menemukan semesta baru,
dari jejak luka yang terukir oleh cinta tanpa kata.

Inilah kisah—putik kesetiaan yang tumbuh di pucuk duka,
tentang anak-anak gunung merajut hidup dan cerita,
menjadi satu keluarga yang dilahirkan oleh kenangan,
menemukan keabadian di dalam pelukan perpisahan.

Batu, 1612026

Catatan:

Dramatisasi puisi esai ini dikutip dari berita: https://m.tribunnews.com/regional/7779140/sambil-tahan-tangis-ayah-pendaki-syafiq-ali-mengaku-akan-anggap-himawan-sebagai-anak?utm_source=wa_tribun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni