JEJAK Gus Dur: DEMOKRASI, KENEGARAAN, dan PLURALISME

JEJAK Gus Dur: DEMOKRASI, KENEGARAAN, dan PLURALISME 



Karya: Eko Windarto 

Dalam hening yang merentang Jakarta menyulam malam
Haul ke-16 Gus Dur menjadi bait puisi, menebarkan makna dalam kalbu bangsa

Di sana, Mahfud MD berdiri, bukan sekadar insan, namun penjaga waktu
Mengurai benang demokrasi yang kusut, merajut kembali harapan kenegaraan
Memetik nada pluralisme, seperti angin yang mengusap lembut dedaunan keberagaman

Dalam pangkuan kota yang tak pernah tidur, gema suara-suara berkumpul dalam doa 

Menteri Agama Nasaruddin Umar, sang penuntun jiwa, membisikkan kesucian jiwa

Ketua DPD Sultan Bachtiar dan Ganjar Pranowo pemikul amanah tanah dan  rakyat, laksana embun pagi yang menyapa harapan baru

Dan Kardinal Suharyo, suara lintas iman, menari dalam simfoni hakikat kemanusiaan.

Demokrasi bukan sekadar nama
Ia adalah sungai yang mengalir jernih seperti cahaya 
Membawa kehidupan dalam riak-riaknya yang tak selalu tenang

Kenegaraan bukan hanya tentang batas dan hukum
Namun tentang jiwa besar melangkah tanpa bara

Pluralisme adalah pelangi setelah hujan malam hari 
Merayakan warna-warni yang bersandar dalam damai

Dalam tiap kata Mahfud yang terucap
Tersimpan lirih rindu akan nusantara yang utuh 
Negeri yang menerima perbedaan sebagai anugerah
Menggenggam erat tali persaudaraan dan kemanusiaan tanpa gerah

Gus Dur, nama yang abadi,
Bukan semata sejarah, namun jiwa yang berdenyut di setiap langkah
Mengajarkan kita bahwa dalam perbedaan, ada kekuatan
Dalam pluralisme, ada kedamaian yang menunggu untuk dirayakan

Kita, Indonesia, adalah puisi yang belum selesai
Sebuah cerita yang terus mengalir mengikuti waktu
Dengan rasa hormat dan harapan, kita menulis lembar baru

Di pangkuan gelaran haul ini
Dalam bisu malam dan kerlip bintang kejora 
Ada janji yang tak pernah pudar
Bahwa demokrasi, kenegaraan, dan pluralisme adalah nafas yang menghidupkan tanah air tercinta

Begitulah, teman, mari kita resapi,
kita rawat semangat Gus Dur bersama Mahfud dan para penjaga bangsa
Karena dari sanalah, Indonesia menemukan dirinya kembali
Dalam damai, dalam harmoni, dalam cinta yang tak bertepi

Batu, 22122025

Catatan kaki:

Dramatisasi puisi esai dikutip dari berita Kompas TV saat Mahfud MD menghadiri gelaran acara Haul ke-16 Gus Dur di Jakarta yang berbicara soal Demokrasi, Kenegaraan hingga Plularisme.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni

YUA dan OK-OCE Dorong Evaluasi Kinerja Sekda Kota Batu