Langit Karakas: Simfoni Operasi 300 Menit
Oleh: Eko Windarto
Langit Karakas meradang dalam sunyi
Semuanya gelap, namun tak sekadar hampa.
Seratus lima puluh pesawat menari tanpa jejak
Melintasi malam dengan sayap-sayap hantu
Dari Florida, dari pulau-pulau terisolasi
Suara mesin mereka bernyanyi dalam konspirasi
Bergabung di satu titik dalam harmoni maut
Satu detik, satu tarikan napas, simfoni tanpa cela.
Orkestrasi Angkasa, simfoni tanpa konduktor
E-3 Sentry, sang tokoh piringan jamur, memimpin gelombang
Menyibak gelombang radar, menjadi maestro bayang-bayang.
Di bawahnya, sang penyelinap agung, F-35
Bukan sekadar pemburu, tapi mata tanpa kelopak
Mendengar denyut sinyal musuh, membisikkan rahasia ke udara.
Di kejauhan, EA-18G Growler memainkan lagu tanpa nada
Menghantam gelombang elektronik, membelah sunyi
Radar pun terjerat dalam kabut kebutaan
Layar memutih, kosong, seperti jiwa yang terlepas kendali.
Terbitlah resimen malam, Night Stalkers yang tak kenal lelah
Mensiasati ombak, menyelusup seperti bayang-bayang
Helikopter MH-47 Chinook meluncur serendah bisikan ombak Laut Karibia
Mengusung bayangan, hingga ke jantung kota yang berdenyut.
Di bumi Karakas, Delta Force dan FBI bertabrakan dalam diam
Lima jam yang menumpas angka detak, membawa sang presiden ke pelabuhan angkasa
USS Iwo Jima, kapal induk yang menampung rahasia bumi dan langit
Kisah pembebasan, atau penculikan? Semua hanya serpihan cerita.
Namun di bawah permukaan brutal ini, adalah perang yang tiada peluru
Di ruang-ruang tersembunyi, di dalam kabel optik yang berbisik
AI Finansial meluncurkan badai digitalnya;
Sanksi bukan lagi rantai besi, tapi jaringan data yang membekukan.
Kapal tanker terperangkap dalam labirin pola
Transfer uang menjadi jejak terdeteksi sang algoritma
Klik-klik tanpa suara, bangkai besi terapung tanpa bahan bakar
Laut yang tadinya jalan menuju kebebasan, jadi kuburan senyap.
"Dipersulit untuk hidup, dicekik tanpa darah yang tumpah,"
Dompet Maduro terkunci, kunci ada jauh di seberang lautan,
Jenderal kehilangan selera setia, tank kehilangan denyar kekuatan.
Maduro runtuh bukan oleh tembakan, bukan oleh ledakan
Tapi oleh sunyi mencengkeram dompetnya dari kejauhan.
Dan di lorong-lorong hukum yang dililit intrik
FBI HRT menari dalam balutan hukum dan kepolisian
Invasi dibungkus sedemikian rupa menjadi penegakan
Lawfare: perang topeng, di mana hukum melukai tanpa darah.
Kedaulatan menjadi bisu, disobek oleh surat perintah yang menerabas batas negara
Dunia menjadi panggung tanpa dinding, hukum Amerika menjalar seperti akar ilalang.
Di sisi lain dunia, di bayangan Kremlin yang membeku
Putin menghembuskan kepahitan vodka dalam kesunyian
Rusia kehilangan benteng di benua Amerika
Kapalkapal strategi nan berkilau kini redup oleh badai malam
Investasi seperti emas cair menguap
Sedangkan China, dengan utang berpayung janji
Menyesali takdir yang mengikat tali-tali ekonomi
Yang kini putus di tengah badai geostrategis.
Dan di tanah air kita, terdiam kita menatap cermin
Nikel, laut, tanah subur yang berkilau
Namun radar kita masih banyak lubang bak jaring yang sobek
Bank kita terikat oleh pipa-pipa asing
Data kita terpenjara dalam awan yang bukan milik kita
Kedaulatan tanpa teknologi, hanyalah janji terselubung
Diplomasi tanpa kekuatan siber, hanyalah lagu ratapan.
Apakah kita siap ketika tombol "OFF" ditekan dari kejauhan?
Ketika bank berhenti berdetak, dan pesawat tempur berkelebat di atas Monas tanpa terdeteksi?
Di meja besar dunia, pilihan membentang:
Memegang garpu, menjadi pemain atau…
Menjadi santapan di atas piring, terhampar tanpa suara.
Karakas bukan sekadar kota, bukan cuma cerita
Ia adalah bayangan masa depan kita, adalah peringatan yang berdenyut
Supaya kita bangun, sebelum lepas kendali dan kehilangan segalanya
Sebelum langit kita menjadi saksi bisu dari operasi tanpa kata
Operasi tiga ratus menit yang mengungkap betapa dunia ini penuh sihir gelap
Yang menari di batas kedaulatan, di antara bayang-bayang digital
Mengajak kita bertanya: Apakah kita hanya penonton atau akan wujud jadi pelaku bahtera kemerdekaan yang sejati?
Semoga, kita lekas bangun.
Sebelum kita ikut dimakan oleh malam yang tanpa bintang.
Batu, 712025
Catatan:
Artikel Dr Efatha Filomeno Borromeu Duarte yang didramatisasikan dalam puisi esai
Komentar
Posting Komentar