Merajut Kebersamaan dalam Haul Gus Dur ke-16
Dalam helai waktu yang mengalir lembut, mengingat sosok Gus Dur yang senantiasa hidup dalam sanubari, Haul ke-16 beliau menjadi momentum untuk merajut kembali benang-benang kebersamaan dan kasih sayang.
Ketua SATUPENA Jawa Timur, Bapak Akaha Taufan Aminudin, menyampaikan sambutan yang kaya makna, membingkai rasa cinta dan hormat yang mendalam kepada almarhum Gus Dur, di Aula Hasyim Asy'ari, Kota Batu, Jumat, 9/1/2025.
Diantara gema pembacaan mocopat dan puisi-puisi esai yang sarat keindahan kata oleh Ki Sutopo, Eko Windarto, Ingit Mareta, Pendeta, Naseh, Mad Belin, Ki Sutopo, Zainul Mustakim, Ali Surahman, Jazuli, Panca Rahmad Pamungkas, Camat Bumiaji, Thomas Maido,
dan para seniman serta tokoh masyarakat, semangat Gus Dur terasa hadir kembali, mengalir laksana aliran sungai yang tiada putus.
Menurut Yuli Efendi Masud, semangat dalam menggelar haul ini bukanlah sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah panggilan jiwa yang terus menggelora.
Dari awal, kegiatan haul dirancang sebagai ruang terbuka yang mengundang seluruh lapisan masyarakat Kota Batu untuk menyalurkan kecintaan terhadap Gus Dur secara menyeluruh, bukan sebatas kelompok kecil atau elit tertentu.
“Alhamdulillah, sejak beberapa tahun silam, kami menjaga agar acara ini menjadi milik semua, dari anak muda hingga para berkepala putih. Ini bukan sekadar mengenang, namun merayakan nilai-nilai luhur yang diajarkan Gus Dur,” ujar Yuli dengan penuh keyakinan.
Gemuruh pembacaan puisi dan ceramah ternyata hanyalah bagian dari harmoni besar yang diwujudkan oleh para peserta haul.
Ada lintasan kegiatan yang menggugah – mulai dari pengobatan gratis hingga alunan sholawat dan pertunjukan seni budaya lokal, semua bergerak serempak dalam satu irama: merajut toleransi dan kebersamaan seperti yang diwariskan Gus Dur.
“Ke depan, kami berharap soliditas ini semakin kuat. Aula Hasyim Asy'ari yang kita pijak bersama ini harus menjadi monumen semangat dan keberanian Gus Dur – tempat di mana kita semua terus diwarisi harapan dan optimisme,” tambah Yuli dengan lantang.
Di tempat yang sama, Camat Bumiaji, Thomas Maido, menyentuh hati dengan monolog spontan yang melukiskan betapa acara ini bukan hanya soal mengenang.
Ia menegaskan bahwa semangat Gus Dur sebagai ulama sufi, pejuang kemanusiaan, dan sosok keberagaman adalah ruh yang harus kita pelihara dan suarakan terus-menerus.
"Setiap langkah dan gerak kecil dalam haul ini adalah benih-benih kebaikan yang harus tumbuh subur," ujarnya.
Bapak Hari MC pun mengisi ruang dengan semangat yang turut menggugah rasa haru hadirin. Aula Hasyim Asy'ari yang menjadi saksi perhelatan ini bukan semata bangunan, melainkan lambang wakaf semangat kebangsaan dan kemanusiaan Gus Dur.
Melalui kegiatan rutin di aula ini, diharapkan nilai luhur Gus Dur akan terus lestari dan mampu menginspirasi generasi kini dan yang akan datang.
Bapak Akaha pun mengakhiri sambutannya dengan pesan penuh harapan dan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam pelaksanaan Haul sekaligus mengajak semua yang hadir untuk bersatu meramaikan kegiatan di tahun-tahun berikutnya.
Ia memastikan bahwa setiap penyelenggaraan akan terus dibenahi agar semakin meluas, meliputi seluruh komunitas dan generasi.
“Inilah perjuangan kita. Menjadikan haul Gus Dur bukan hanya peringatan, tapi juga momentum memperkuat persaudaraan, menggugah bangsa untuk hidup dalam kerukunan. Mari, kita isi setiap helai waktu dengan cinta Gus Dur yang abadi,” tutup beliau dengan lirih namun penuh percaya.
Penulis: Win
Komentar
Posting Komentar