Suara Rakyat: Denyut Negeri yang Tak Boleh Terabaikan
Oleh: Eko Windarto
Di hamparan nusantara yang luas terbentang,
di mana angin mengusung bisik-bisik harap,
suara rakyat adalah nadi, denyut yang tak boleh sirna,
namun bila terpinggir, lalu apa lagi yang tersisa?
Kepercayaan bagai jembatan tembaga,
kokoh merambat di atas sungai waktu dan asa,
tetapi kala diacuhkan—ia retak dan runtuh,
mengoyak tali suci antara rakyat dengan pemimpin.
Skeptisisme menyusup, bayang merentang merayap,
mengaburkan cahaya di langit pemerintahan,
memakan partisipasi, meninggalkan kesunyian di arena politik.
Kemarahan terpendam meledak jadi ombak gelombang,
massa bergerak, gema suara membahana,
jalan menjadi panggung berapi kata dan aksi,
dari reformasi nan mengguncang sendi bangsa,
hingga teriakan mahasiswa dan buruh di sudut kota—
semuanya menuntut satu nada: didengar!
Namun bila diam menjadi tembok,
represi menari di atas bara ketegangan,
melukai hati negeri dan menggoreskan luka di kanvas dunia,
maka, teriak penuh api menggema di sudut-sudut kota.
Pembelahan mulai menorehkan motif tajam,
mengiris persaudaraan jadi serpihan,
polarisasi—monster senyap di meja demokrasi,
memecah saudara, membungkam dialog jadi bisu,
membuat media sosial ladang pertarungan ide yang membara,
hingga nasib bangsa terombang-ambing di arus ekstrem jiwa.
Dari abu yang tersebar,
lahir jiwa-jiwa tak lekang oleh senyap,
aktivisme mengalun, gerakan sosial menari lincah,
mereka lentera di lorong kelam,
menghembuskan nyala pada ruang suara yang redup,
membangkitkan harap, menuntut keadilan di setiap tarikan napas.
Gerakan antikorupsi, penjaga bumi, suara kepedulian—
semua denyut dari hati rakyat yang menolak padam.
Pada titik tertekan, yang tak terelakkan,
pemimpin terpaksa membuka gerbang kebijakan baru,
merasakan nadi di bawah tanah, merangkul aspirasi,
bukan beban, melainkan kompas menapaki masa depan.
Reformasi bukan sekadar pilihan, tapi keharusan,
menyatukan kembali benang-benang kepercayaan yang terurai,
menyulam kebijakan inklusif dan rasa keadilan.
Di ujung puisi ini tertoreh hikmah agung:
dialog bukan sekadar kata—ia jiwa demokrasi,
mendengarkan rakyat adalah seni mengukir bangsa,
menutup telinga adalah undangan bagi badai,
sementara membuka hati adalah investasi abadi,
membentuk negeri kuat, berdaya saing, penuh harmoni.
Kini tiba saatnya elit membuka jendela jiwa,
biarkan angin perubahan mengusir keraguan,
karena suara rakyat bukan bisikan kosong,
melainkan simfoni kehidupan yang menuntun sejarah.
Di antara gemuruh sulit dan tunas harapan yang merekah,
marilah kita resapi:
ketika suara rakyat terpinggirkan,
semesta akan bersuara, dan perubahan datang menggema.
Batu, 12 Januari 2026
Catatan:
Robert Putnam (1993), "Making Democracy Work"
Buku ini membahas pentingnya kepercayaan sosial (social trust) sebagai fondasi demokrasi yang sehat. Hubungan antara kepercayaan rakyat dan legitimasi pemerintahan sangat relevan dengan tema krisis kepercayaan yang diangkat dalam dramatisasi puisi esai.
Samuel P. Huntington (1991), "The Third Wave: Democratization in the Late 20th Century"
Buku ini mengulas dinamika demokrasi dan pentingnya aspirasi rakyat dalam transisi dan konsolidasi demokrasi, mendukung aspek perubahan dan reformasi dalam konteks politik yang ditulis.
Blumer, Herbert (1969), "Collective Behavior"
Mengupas fenomena sosial seperti protes massa dan gerakan sosial yang muncul sebagai respons atas pengabaian suara rakyat.
***
Komentar
Posting Komentar