Sunyi Setelah Badai: Kisah Petani Kopi Gayo


#puisiesai

Karya: Eko Windarto 

Ada tabir senja turun perlahan, mematikan lampu-lampu gemerlap di ujung cakrawala.

Suara sorak sorai relawan lamat sirna.
Debur ombak yang tergerus waktu.

Algoritma bencana, sang pengaduk perhatian, telah berpaling pada hal baru gemerlap cahaya.

Petir berita berhenti berdentang, menyisakan sunyi yang memeluk luka.

Di sanubari kami, terpatri bayang filosofi.
Sejuta kaki kecil menjejak lumpur basah oleh air mata.

Ayah dan ibu mendamba pelangi pasca hujan badai, namun, langit hanya serupa kanvas kelabu tiada bertepi.

Kopi, bukan sekadar ruang aroma dan rasa, Ia adalah garis darah mengaliri kampung, Madrasah sejarah tempat anak-anak menimba ilmu, Simfoni pagi, sorak petani yang menari bersama dendang embun pagi.

Namun, banjir menyapu pohon-pohon harapan. Akar-akarnya terkubur dalam pelukan lumpur dingin yang sunyi.

Lima musim menanti, bisu dalam peluh, satu per satu tahun jatuh tanpa embun keberuntungan.

Modal hanyut, seperti daun yang dibawa angin, lapangan kerja terkubur, harapan terkutuk sepi.

Mereka bersumpah akan bertahan, kini berdiri di tepi jurang, menatap mubazir waktu.

Ketika dunia mengalihkan pandangan, ketika kamera berhenti menangkap getar jiwa, di sudut yang terlupakan, kisah lain bergulir, sejuta tangan membangun kembali benteng rumah rahmat.

Seperti akar merambat di balik tanah, keteguhan tumbuh dari bebatuan meraung.

Perjuangan adalah sajak tanpa jeda.
Dalam sunyi, mereka menulis kehidupan babak baru .

Dan kamu, saudaraku petani kopi Gayo, Engkau bukan sekadar titipan masa lalu, engkau adalah ladang doa, tempat mimpi tumbuh bersama pagi yang lama ditunggu.

Jangan biarkan empati kita menjadi fatamorgana, jangan tawarkan janji yang terikat algoritma. 

Janji bukan sekadar gemuruh bantuan semalam, namun napas panjang menyentuh jiwa.

Ketika tawa kembali di meja-meja megah, ingatlah ada jiwa yang masih menggenggam serpihan bencana.

Ada peluh yang menetes tanpa jejak kamera, Ada doa yang menggema dalam sunyi pekat malam.

Kemanusiaan adalah pelayaran panjang, bukan peluru cepat habis dalam detik.

Mari kita bertahan bersama mereka, alam riuh, senyap, dalam gelap dan cahaya.

Berisik bukan hanya suara bising, ia adalah gema yang menolak diam.

Mengingatkan kita akan tanggung jawab abadi, bahwa sesama adalah pulau-pulau yang harus terus terhubung.

Mari berisik dengan cinta yang tulus.
Taklukkan hampa dan abaikan sunyi.
Saling bahu-membahu menyulam asa.
Karena setelah badai berlalu, bukan akhir cerita.

Batu, 612026

Catatan:

Dramatisasi puisi esai ini ditulis dari opini PrayForSumatera #BanjirSumatera #KopiGayi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni

YUA dan OK-OCE Dorong Evaluasi Kinerja Sekda Kota Batu