Bentuk Wujud Kepedulian: Hasil Penjualan Merchandise BRAIN WASH untuk Penyandang Disabilitas

Personil band underground punk rock BRAIN WASH, saat memberikan bantuan kepada pengamen penyandang disabilitas, Eko Pramono. 

Dalam dunia musik underground yang keras dan penuh semangat, band punk rock BRAIN WASH hadir bukan sekadar sebagai penyuaranya yang garang, melainkan juga sebagai penggerak jiwa kemanusiaan.

Melalui penjualan merchandise kaos, mereka menyalurkan hasilnya kepada penyandang disabilitas, membuktikan bahwa di balik dentuman keras musik punk, tersimpan empati yang mendalam dan upaya nyata untuk memberikan ruang berekspresi bagi mereka yang sering terlupakan, Sabtu, 7/2/2026.

Di balik dentum drum dan suara khas gitar listrik yang menghentak, terkadang tersembunyi kisah kemanusiaan yang sarat makna. 

BRAIN WASH, band punk rock underground yang memiliki akar kuat di skena musik alternatif, membuktikan bahwa musik bukan sekadar alat ekspresi diri tetapi juga medium kepedulian dan empati. 

Melalui hasil penjualan merchandise kaos mereka, para personil menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu penyandang disabilitas—mereka yang sering kali menghadapi dinding tantangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kurowo, gitaris sekaligus vokalis BRAIN WASH, dengan tulus mengatakan, “Kami patungan biaya cetak kaos, dan 100% hasilnya kami salurkan untuk teman-teman penyandang disabilitas. Ini wujud kepedulian kami untuk saudara-saudara yang harus diberi ruang agar mereka bisa menyalurkan bakat lewat seni dan budaya.” 

Tidak hanya sekadar bantuan materi, mereka ingin membuka pintu kesempatan kepada penyandang disabilitas agar bisa berkreasi dan bersuara.

Dalam dunia yang tidak selalu ramah pada keterbatasan fisik, keberanian dan semangat bertahan menjadi modal utama.

Kurowo menegaskan, “Hidup memang penuh tantangan, apalagi bagi mereka yang fisiknya terbatas untuk bekerja mencari nafkah. Tapi semangat dan harapan jangan pernah padam.”

Kata-kata ini memantik harapan baru, bahwa hidup dengan keterbatasan bukan berarti menyerah, melainkan sebuah perjuangan yang patut diapresiasi.

Di Kota Batu, sosok Eko Pramono adalah inspirasi hidup nyata. Pria penyandang disabilitas ini adalah pengamen jalanan sekaligus pencipta lagu seperti “Batu Kota Surgawi”. 

Lagu-lagu ciptaannya menyuarakan keindahan dan harapan, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang berkarya. 

Kurowo menyebut, “Banyak teman penyandang disabilitas yang multitalenta. Mereka butuh dukungan dan wadah untuk berekspresi, bukan hanya bantuan materi.” 

Pesan ini mengingatkan kita agar jangan pandang sebelah mata kapabilitas sesama manusia, walau mereka memiliki keterbatasan.

BRAIN WASH tidak berhenti pada bantuan materi. Mereka tengah menyiapkan kolaborasi karya seni dengan para penyandang disabilitas, mengubah semangat pemberdayaan menjadi realitas musik yang menggugah.

Meskipun band ini terbilang “baru”, rupanya para personilnya adalah sosok-sosok lama di kancah punk, seperti Kentir sang drummer yang dikenal dengan permainan speednya yang garang dan Sinting, sang bassis, yang dengan rendah hati berharap agar bantuan kecil dari mereka mampu meringankan beban sesama.

Eko Pramono pun turut menyampaikan rasa terima kasihnya. 

“Tak kusangka, di balik lagu-lagu cadas dan penuh kritik tajam, ternyata ada empati yang tulus untuk kami. Saya siap berkolaborasi kapan pun lewat karya seni musik,” ujarnya penuh haru. 

Suara Eko adalah gema nyata bahwa kepedulian sejati tak memandang genre musik, melainkan kemurnian hati untuk memberikan arti.

Di balik nada dan riff yang tajam, terselip pesan moral luhur yang hendak disampaikan BRAIN WASH: bahwa setiap manusia, tanpa kecuali, layak mendapatkan ruang dan kesempatan yang sama. 

Mari kita jadi bagian dari gerakan kecil itu. Bisa jadi dengan menjadi sukarelawan, mendukung komunitas penyandang disabilitas, atau sekadar memperlakukan mereka dengan hormat dan penuh kesetaraan—karena sesungguhnya, dukungan kita adalah nada indah dalam simfoni kehidupan.

“Support Your Local” bukan hanya slogan kosong, melainkan panggilan hati bagi kita semua untuk membuka mata dan diri, menyambut serta memberdayakan sesama. 

Karena pada akhirnya, kepedulian adalah melodi yang mampu meredam deru kerasnya tantangan, menghadirkan harmoni di tengah perbedaan dan keterbatasan.

Penulis: Win

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni