Didong di Tengah Luka: Sebuah Refleksi Sosiologis tentang Seni, Trauma, dan Solidaritas



Oleh: Eko Windarto

Puisi “Didong di Tengah Luka” merupakan ungkapan puitis yang menggambarkan bagaimana tradisi budaya Didong bukan sekadar hiburan, melainkan sarana kritis dalam proses pemulihan sosial dan psikologis masyarakat Gayo pasca bencana. Dengan pendekatan sosiologi, tulisan ini menguraikan secara rinci bagaimana seni dan budaya berperan sebagai perekat sosial, medium menghidupkan memori kolektif, serta sumber kekuatan dalam mengatasi trauma, mengembalikan identitas dan memperteguh solidaritas komunitas.

Didong di Tengah Luka

Karya: LK Ara

Malam turun seperti kain hitam
yang menutup luka bumi Gayo.
Angin membawa sisa-sisa tangis,
dan lampu darurat menggantung
seperti bintang yang kelelahan.
Di antara tenda dan tanah yang retak,
anak-anak duduk melingkar.
Mata mereka menyimpan tanya
yang belum sempat dijawab waktu.

Lalu seorang lelaki bersila di tengah lingkaran itu.
Dr. Rasyidin—
bukan membawa pidato,
bukan membawa teori kampus,
tetapi membawa tepuk tangan
dan napas tradisi.

Tangannya memulai irama.
Tak.
Tak.
Tak-tak.

Didong bangkit
dari dada yang hampir patah.
Sebagai relawan,
sebagai ahli pantomim yang biasa berbicara dengan sunyi,
ia kini memilih bahasa yang lebih purba—
bahasa tepuk,
bahasa syair,
bahasa kebersamaan.

Musibah memang merobohkan dinding,
tetapi tidak merobohkan ingatan.
Dan Didong adalah ingatan yang hidup.

Anak-anak mulai mengikuti.
Tepuk mereka mula-mula ragu,
lalu menemukan irama.
Seorang remaja tersenyum.
Yang lain berani melantunkan balas.

Di tengah duka,
suara menjadi pelukan.
Dr. Rasyidin tahu—
pemulihan bukan hanya soal kayu dan semen,
tetapi tentang jiwa yang harus dipanggil pulang
dari trauma.

Maka ia memanggilnya
dengan irama leluhur.
Malam itu,
di dataran tinggi yang dingin,
Didong bukan sekadar seni.
Ia menjadi zikir kebudayaan.
Ia menjadi doa yang ditepukkan.
Ia menjadi api kecil
yang menolak padam.

Dan di antara anak-anak Gayo
yang kembali tertawa pelan,
kita belajar satu hal:
Bencana boleh mengguncang tanah,
tetapi selama irama masih
hidup,
harapan tidak pernah rutuh.

***

Malam dan Luka: Menggambarkan Krisis Sosial yang Melanda Komunitas

Puisi dibuka dengan “Malam turun seperti kain hitam yang menutup luka bumi Gayo,” sebuah metafora kuat yang menggambarkan terjadi sesuatu yang amat berat di dataran tinggi Gayo. Secara sosiologis, ini melambangkan masa krisis dan keterpurukan yang dihadapi komunitas karena bencana (seperti gempa bumi atau kejadian alam lain yang melukai fisik dan psikologis masyarakat).

Konsep Anomie Emile Durkheim sangat relevan di sini. Dalam pandangan Durkheim, suatu kondisi sosial dapat mengalami anomie ketika aturan dan norma sosial melemah atau tak lagi mampu mengatur kehidupan kolektif karena gangguan besar seperti bencana. Di masa-masa tersebut, masyarakat bisa merasa kehilangan arah, ikatan sosial memudar, dan solidaritas melemah.

Fenomena seperti “lampu darurat menggantung seperti bintang yang kelelahan” juga secara simbolik menunjukkan kondisi “gemerlap” sosial yang sudah kehilangan semangat dan daya hidup. Akibatnya, tidak hanya rumah-rumah dan infrastruktur yang rusak, tetapi juga ikatan sosial dan rasa aman psikologis.

Dr. Rasyidin: Agen Sosial yang Menghubungkan Kembali Komunitas Melalui Seni Tradisi

Kehadiran Dr. Rasyidin bukan sekadar sebagai relawan medis, melainkan sebagai agent of social cohesion—pelaku penguat kohesi sosial di tengah trauma. Ia tidak memakai bahasa formal yang kaku seperti pidato atau teori ilmiah, melainkan memilih bahasa yang lebih dekat dengan budaya rakyat, yaitu tepuk tangan dan seni Didong.

Dalam konteks teori sosiologi, ini adalah bentuk social action yang simbolik, yakni tindakan yang bermakna dalam interaksi sosial. Dengan memanggil kembali seni tradisi tersebut, Dr. Rasyidin membangun jembatan emosional antara warga yang terdampak bencana sehingga perasaan kesepian dan frustasi dapat berkurang.

Menurut sosiolog Victor Turner, ritual dan seni tradisi seperti ini dapat menciptakan ruang liminal dimana status sosial lama sementara hilang dan komunitas mengalami proses transisi dan pemulihan. Dr. Rasyidin sebagai fasilitator membantu masyarakat masuk ke ruang liminal itu melalui Didong.

Didong Sebagai Media Memori Kolektif: Menghidupkan Kembali Identitas Budaya

Didong bukan hanya irama atau hiburan, melainkan collective memory yang hidup—sebuah ingatan kolektif yang terus dihidupkan dari generasi ke generasi. Menurut Maurice Halbwachs, memori kolektif ini dikelola dan dipertahankan oleh komunitas sebagai bagian dari identitas sosial.

Dalam puisi, “Didong bangkit dari dada yang hampir patah” menggambarkan bahwa melalui seni ini, masyarakat tidak kehilangan dirinya meskipun menderita trauma berat. Didong menjadi representasi integrasi diri dan pengingat akan akar budaya yang penuh makna dan kekuatan.

Ketika anak-anak mulai menirukan tepuk dan suara dan akhirnya melantunkan bersama, itu menandai proses rekonstruksi sosial di mana ingatan dan identitas kolektif menguat dan membalaskan luka lewat kebersamaan dan ritual budaya.

Tepuk dan Irama: Simbol Interaksi yang Membangun Realitas Sosial Baru

Menurut teori symbolic interactionism dari George Herbert Mead dan Herbert Blumer, interaksi simbolik membentuk cara orang memahami dan beradaptasi dengan dunia sosial mereka. Dalam puisi, tepuk tangan yang “mula-mula ragu lalu menemukan irama” adalah proses sosial di mana individu yang trauma mulai membangun makna bersama melalui media simbolik—dalam hal ini, Didong.
Sebagai contoh, remaja yang mulai tersenyum dan berani melantunkan balas adalah indikator bahwa proses sosial telah mengarah pada penguatan solidaritas dan rasa percaya diri bersama. Interaksi simbolik ini memperkuat komunikasi nonverbal yang menyembuhkan luka batin dan menjaga kohesi sosial.

Pentingnya unsur interaktif dalam seni ini yakni memungkinkan partisipasi aktif dari semua anggota komunitas, sehingga pembauran sosial berlangsung secara autentik dan efektif.

Didong Sebagai Zikir Kebudayaan: Ritual Kolektif untuk Pemulihan Jiwa

Puisi menyebut Didong sebagai “zikir kebudayaan” dan “doa yang ditepukkan,” menegaskan fungsi ritual budaya sebagai media pemanggilan kembali jiwa komunitas dalam tradisi spiritual dan sosial yang melekat kuat. Dalam teori Victor Turner, ritual semacam ini sangat penting untuk memperbaiki dan menguatkan kembali jaringan sosial setelah gangguan atau trauma.

Ritual Didong bukan hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai koreksi sosial dan spiritual, menciptakan communitas, yaitu keadaan hubungan sosial intens dan egaliter di mana orang merasa sangat terhubung dan terangkat bersama. Komunitas seperti ini menjadi sumber kekuatan dan harapan di masa-masa sulit.

Ini juga menunjukkan bagaimana aspek budaya dan seni menjadi penyambung hidup bagi manusia melebihi kebutuhan fisik, memenuhi kebutuhan psikologis dan sosial yang esensial.

Budaya Sebagai Pondasi Harapan dan Rehabilitasi Sosial

Dalam konteks pemulihan pascabencana, pandangan modern dalam studi sosial menegaskan bahwa rehabilitasi bukan hanya pembangunan fisik seperti rumah dan jalan, tetapi juga rekonstruksi social capital — modal sosial yang menyangkut hubungan, jaringan, dan kepercayaan di dalam komunitas.

Didong dalam puisi ini berperan sebagai fondasi penguatan modal sosial itu. “Api kecil yang menolak padam” dan anak-anak yang mulai tertawa perlahan menandakan bahwa proses pemulihan jiwa dan sosial sedang berjalan.

Ketika sebuah budaya lestari dan dihargai, ia menjadi sumber daya tak ternilai yang memungkinkan masyarakat bertahan, membangun resilience (kekuatan tahan banting), dan menyambung harapan bahkan pada situasi paling suram sekalipun.

Kesimpulan:

Puisi “Didong di Tengah Luka” adalah refleksi mendalam akan bagaimana seni dan budaya tradisional memainkan peran vital dalam memulihkan dan memperkuat jalinan sosial pascabencana. Didong sebagai sarana ekspresi kolektif meningkatkan solidaritas, membangkitkan memori bersama, dan menghadirkan ruang transformasi sosial yang menyembuhkan luka batin.

Seni tradisional bukan hanya warisan estetika, tetapi juga instrumen penting dalam kesejahteraan sosial dan psikologis komunitas. Dengan memahami peran ini secara sosiologis, kita semakin sadar bahwa menjaga dan melestarikan budaya adalah investasi masa depan bangsa yang tidak bisa diabaikan.

Referensi Utama:

Durkheim, Emile. The Division of Labour in Society. (1893). Konsep anomie sebagai krisis norma sosial.

Halbwachs, Maurice. On Collective Memory. (1992). Pengertian memori kolektif sebagai fondasi identitas sosial.

Turner, Victor. The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. (1969). Teori ritual liminal dan communitas.

Mead, George Herbert dan Blumer, Herbert. Symbolic Interactionism — Interaksi simbolik dalam pembentukan realitas sosial.

Batu, 2322026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni