Gempa di Pacitan: Menggetarkan Bumi, Menyentuh Jiwa


Oleh: Eko Windarto 

Dari kedalaman lautan selatan Jawa, getaran mengguncang Pacitan dini hari itu. 

Dengan megahnya lempeng bumi menari, mencipta gempa yang bukan sekadar angka—melainkan cerita manusia, rasa, dan alam yang berdialektika. 

Sebuah puisi esai hadir untuk merenungkan getaran yang tak hanya menggoyang tanah, tapi juga jiwa kita.

Dalam senyap malam yang pelan, jam satu lewat enam menit,
bumi Pacitan bergetar, sebuah isyarat antara lempeng terhampar.

Enam koma empat—atau enam koma dua, angka yang bertarung,
menggugah jiwa dalam kedalaman lima puluh delapan kilometer.

Di bawah laut, sembilan puluh kilometer dari daratan, Episenter berbisik, 8,98 derajat ke selatan, 111,18 ke timur—titik yang hening namun penuh gelora.

Lempeng bumi seperti pengepung raksasa, subduksi yang menari, mengirim gelombang naik, mekanisme sesar yang memicu cerita.

Gempa ini bukan sekadar guncang, tapi dialog alam, hingga terasa sampai jepara, utara Jawa yang jauh nan teduh.

Rahasia gempa terungkap dalam skala Modified Mercalli— IV di Bantul, Sleman dan Pacitan, seperti bisik orang banyak di rumah.

III mengalun di Kulon Progo, Malang hingga Magetan, seakan truk berat lewat, membelah udara malam.

Di Tuban dan Jepara, halus seperti angin berbisik, II MMI, menggoyang benda ringan yang tergantung.

Namun BMKG, sang saksi mata, berkata dengan tegas, tidak ada tsunami yang menunggu dalam gelombang ini.

Namun, apa arti angka tanpa rasa?

Gempa tak sekadar sains—ia panggilan dari bumi, bisikan keras dan lembut yang menghidupkan kesadaran.

Bahwa kita bagian dari tanah yang bergerak, dalam ketidaktentuan, kita belajar bertahan dan bersyukur.

Malam berjalan terus, burung membalas dengan kicauannya, manusia menatap langit dengan harap dan doa.

Gempa di Pacitan bukan akhir, tapi pengingat, bahwa di bawah kaki kita, dunia terus berputar dan bicara.

Mari kita dengar, resapi, dan renungkan, dalam getar gempa, ada pelajaran hidup yang tak terucap.

Tentang kekuatan alam, keterhubungan kita, dan keindahan yang tersembunyi dalam setiap detil kecil yang mengguncang.

 Saat bumi bergetar, kita diingatkan bahwa hidup adalah tarian antara kekuatan dan kelembutan, antara ketidakpastian dan harapan.

Batu, 622026

Catatan:

Referensi yang menjadi dasar pengembangan puisi esai "Gempa di Pacitan: Menggetarkan Bumi, Menyentuh Jiwa" yang mengacu pada data dan informasi dari sumber resmi:

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Laporan resmi dan analisis gempa bumi Pacitan pada 6 Februari 2026, termasuk magnitudo, koordinat episenter, kedalaman gempa, serta mekanisme sumber gempa subduksi lempeng.

Link: https://www.bmkg.go.id (informasi gempa dan rilis resmi BMKG)

Tribunnews.com

Artikel berita "Analisis BMKG Gempa Pacitan M 6,4 Jumat Dini Hari, Terasa hingga Jepara" yang memuat detail intensitas gempa di berbagai daerah dan penjelasan BMKG terkait potensi tsunami.

Link: https://www.tribunnews.com/regional/2026/02/06/analisis-bmkg-gempa-pacitan-m-64-jumat-dini-hari-terasa-hingga-jepara

Penjelasan Skala Modified Mercalli Intensity (MMI)

Informasi tentang skala MMI yang digunakan untuk mengukur intensitas guncangan gempa berdasarkan persepsi manusia dan dampaknya.

Referensi umum kegempaankimia dan sumber edukasi kebumian seperti USGS (United States Geological Survey) atau laman BMKG.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni