PECI: Inisiatif Konservasi Gajah Sumatra yang Menginspirasi dari Aceh Tengah
Oleh: Eko Windarto
Kolaborasi antara Pemerintah Indonesia dan Inggris menghadirkan harapan baru bagi pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya gajah Sumatra, melalui Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) di Aceh Tengah. Program ini bukan sekadar menjaga habitat, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal dengan pendekatan agroforestri regeneratif dan potensi ekowisata, yang menjanjikan harmoni antara manusia dan alam.
Indonesia, surga bagi beragam flora dan fauna, kini semakin serius menjaga warisan alamnya. Salah satu bukti nyatanya adalah kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Inggris guna mendukung konservasi keanekaragaman hayati, termasuk lanskap unik yang menjadi rumah berbagai satwa langka. Proyek unggulan dari kolaborasi ini adalah Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI), yang berlokasi di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
PECI bukan hanya tentang melindungi gajah Sumatra — hewan ikonik yang menjadi simbol kekayaan alam Indonesia. Program ini juga menyematkan tujuan mulia membantu kehidupan masyarakat sekitar hutan, menggabungkan konservasi satwa liar dengan praktik agroforestri regeneratif. Bayangkan sebuah hutan di mana pohon-pohon tidak hanya tumbuh untuk menyimpan karbon dan melindungi habitat, tapi juga menjadi sumber penghasilan bagi warga.
Konflik antara manusia dan gajah di Aceh Tengah dan sekitarnya sudah menjadi isu lama. Setiap tahunnya, laporan dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mencatat berbagai kejadian di wilayah seperti Bener Meriah, Pidie, Bireuen, dan Aceh Jaya, di mana gajah sumatra berkeliaran dan kadang merusak tanaman warga. Program PECI hadir sebagai jembatan solusi, mengurangi tekanan terhadap kawasan hutan sekaligus memitigasi konflik tersebut secara berkelanjutan.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menuturkan bahwa konservasi ini akan menjangkau wilayah luas, sekitar 90.000 hektare. Ini bukan angka kecil! Untuk memastikan keberhasilan, PECI melibatkan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Inggris, WWF Indonesia yang punya reputasi kuat dalam pelestarian alam, hingga perusahaan kehutanan PT Tusam Hutani Lestari.
Menariknya, PECI juga fokus pada pengembangan agroforestri dan ekowisata berbasis konservasi. Jadi, ini bukan hanya tentang menjaga hutan atau melindungi gajah, tetapi juga tentang bagaimana alam bisa menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat. Tidak lupa, implementasi nilai ekonomi karbon juga menjadi bagian penting, membuka peluang baru dalam perdagangan karbon yang tengah menjadi trend global.
Keterpaduan antara perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat ini memberi harapan bahwa konservasi bisa berjalan seiring dengan kemajuan sosial ekonomi. Dengan cara ini, kita tidak hanya menyelamatkan satwa langka, tapi juga membangun sinergi positif antara manusia dan alam.
Jadi, apa pelajaran dari PECI? Bahwa pelestarian alam bukan hanya tanggung jawab para ahli atau pemerintah, tapi juga adalah perjalanan bersama, yang membutuhkan kreativitas, kolaborasi, dan tentu saja, kepedulian kita semua. Bukankah lebih asyik jika kita bisa menjaga bumi sambil menciptakan masa depan yang lebih baik untuk semua?
Batu, 2322026
Referensi:
Keterangan resmi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, WWF Indonesia (2024).
Laporan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.
***
Bagaimana menurut Anda? Apakah kita sudah cukup peduli dengan warisan alam kita? Mari bagikan artikel ini agar lebih banyak orang tahu dan ikut peduli!
***
Komentar
Posting Komentar