Kesunyian Anak di Batas Senja
Karya: Eko Windarto
Dalam keheningan sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, sebuah kisah pilu terukir—seorang siswa SD bernama YBR, berusia sepuluh tahun, mengakhiri hidupnya.
Dalam secarik kertas kecil, tersirat asa dan beban yang tak terkatakan: buku dan pulpen sebagai kebutuhan sederhana tapi berarti.
Kisah ini membuka mata kita pada luka terdalam dunia pendidikan dan sosial, yang luput dari perhatian.
Puisi esai ini mencoba merangkum rasa duka dan refleksi atas peristiwa tersebut, mengajak kita merenung tentang perlunya kepekaan dan perhatian sejati bagi setiap anak di pelosok negeri.
Di balik hijau ladang dan bambu berdiri tegak
Terselip kisah senyap dari seorang bocah kecil—YBR namanya
Sepuluh tahun usianya, hidupnya sederhana
Namun beban di pundaknya, lebih berat dari masa depan yang ia dambakan.
Pulpen dan buku—lembaga kecil harapan sekolah
Tersurat dalam fragmen tulisan tangan yang sunyi
Sebuah permohonan tanpa suara, tanpa teriak
Menjadi saksi bisu dari ketidaksempurnaan dunia yang kita ciptakan
Di pondok bambu tempatnya berteduh, bersama nenek
Tempat cerita dan tawa seharusnya bersemayam
Namun kesepian merambat diam-diam
Membiarkan luka tak terungkap, menutup cahaya harapan.
Kepala sekolah berkata, "Kami tak tahu”—kata-kata yang menusuk
Mereka tak melihat, mereka tidak tahu beban yang tak terucap.
Wali kelas di balik layar, berusaha memantau
Namun bagaimana memeluk harga diri seorang anak yang terluka saat ia diam?
Dalam kelas, YBR sunyi, tanpa keluhan
Senyumnya tersembunyi dalam pride kecil yang ia bangun
Kita terlambat membaca isyarat, terlambat meraih tangan kecil yang terulur
Maka ia memilih berpisah, meninggalkan dunia dengan sepi.
Kejadian ini bukan hanya cerita pilu dari sebuah desa terpencil
Ia adalah potret cermin pendidikan kita, yang masih meninggalkan celah.
Dimana kebutuhan dasar belajar menjadi beban berat, dan empati kita harus belajar lebih mendalam lagi.
Mari kita renungkan
Bagaimana bisa buku dan pulpen—sedikit senjata ilmu— menjadi jarak antara hidup dan mati, antara harapan dan kesunyian?
Bukankah tiap anak berhak bermimpi dan tumbuh tanpa rasa takut?
Puisi esai ini bukan sekadar ungkapan duka
Tapi seruan wakaf jiwa bagi kita semua— untuk mendengar suara-suara kecil, yang selama ini tak terdengar dan terabaikan dalam hening.
Karena anak-anak seperti YBR, bukan hanya angka di statistik.
Mereka adalah benih masa depan, yang kita titipkan di tangan dunia.
Mari bersama kita hadir—lebih dari sekadar kata-kata
Hadirlah dalam tindakan, kehangatan, dan cinta yang tulus.
Sehingga tak ada lagi senja yang merenggut langkah kecil
Dan esok hari yang tiba, menguatkan kaki mungil yang melangkah pasti.
Dalam tragisnya kehilangan YBR, tersimpan pelajaran universal:
bahwa setiap anak adalah cerita berharga.
Dan di sinilah kita ditantang,
menjadi penjaga jiwa-jiwa kecil yang menumbuhkan masa depan.
Jangan biarkan kesunyian menjadi jawab
Mari bergandeng, membuat dunia ini tempat yang ramah, untuk buku, pulpen, mimpi-mimpi, dan yang terpenting—kehidupan yang layak.
Batu, 5 Februari 2026
Puisi esai ini didramatisasikan dari Berita dan Laporan Media Terkait Kasus YBR. TribunFlores.com: Liputan dan respons masyarakat terhadap peristiwa tragis YBR.
Koran lokal dan nasional yang menyoroti cerita anak dan pendidikan di NTT.
Mari bagikan kisah YBR, bukan sebagai duka semata, tapi sebagai obor inspirasi.
Sebab dunia yang lebih baik dimulai dari kita, dari pikiran dan hati yang terbuka.
#MendengarAnak #PendidikanUntukSemua #PelitaUntukMasaDepan
Komentar
Posting Komentar