Diam yang Berbicara: Refleksi Kemanusiaan dalam Puisi Naim Emel Prahana



Oleh: Eko Windarto 

Puisi DIAM karya Naim Emel Prahana bukan sekadar himpunan kata-kata yang tersusun dalam rima dan irama. Ia adalah sebuah gema tak bertepi dari jiwa yang merana, sebuah perlambang dari rasa yang tenggelam dalam kesunyian dunia yang sedang menjerit. Dalam tiap barisnya, tersimpan luka yang tak sekedar menggores permukaan, melainkan menembus ke dasar nurani, mengajak kita merenungkan perihal kemanusiaan, keadilan, dan kebermaknaan hidup di tengah pusaran waktu yang tak kunjung reda.

"DIAM"

Karya: Naim Emel Prahana 

hanya ada satu kata ketika melihat suasana

di mana-mana terjadi musibah 

lautan duka dan air mata melimpah

akibat perdebatan dan serakah sampai

dalih dan opini dibangun serampangan

melemahkah pondasi masa depan

musibah itu berawal dari kata

musibah itu berawal dari tahta

musibah itu berasal dari manusia

musibah itu diawali ucapan

abaikan hukum alam semesta

aku berteriak kepada mereka

dalihnya berdarah-darah muncrat di muka

kita yang tak berdaya semakin pasrah

kebenaran itu dibangun di atas bencana

pasti akibat karena banyak sebab di luar

yang dibuat di ruang-ruang mewah

di gedung-gedung pencakar

di tangan para pemegang saham kekuasaan

sungguh, aku berteriak lantang

akhirnya aku terdiam ketika musibah datang lagi

kata, ucapan dan tata letak wajah mereka

seakan membuang dan menutup diri, 
apa yang telah diberikan kepada negeri ini

sungguh, aku terdiam diam menatap jauh

kebiadaban akibat kepentingan pribadi

ditumpuk menjadi gunung es yang akan mencair

menenggelamkan siisi negeri kita.

diam, bukan karena tak responsif

diam, bukan karena tak peduli

diam, bukan karena tak perhatian

tapi, diamku menumpahkan tangis

seperti lautan yang selalu gelisah.

15 Desember 2025

Struktur dan Bentuk: Sebuah Ritme Kepedihan

Struktur puisi DIAM menghadirkan sebuah rentetan suasana yang melaju bak gelombang samudra yang bergulung bergelora. Tiap bait membentuk fragmen-fragmen duka yang saling bertaut, membangun kesinambungan narasi emosional. Tidak terikat oleh pola rima kaku, puisi ini justru bermekaran dalam kebebasan bentuk yang semakin menguatkan kesan lirih namun mendalam. Penggunaan pengulangan kata diam sebagai judul sekaligus penghidup irama menjadi titik berat yang mengarahkan jiwa pembaca menyelami makna yang tersirat dalam hening.

Alur puisi yang bergerak dari luapan duka, kesadaran akan kesalahan manusia, hingga puncak keputusasaan tapi tetap mengandung gema harapan – semua terstruktur seolah meninggalkan jejak perjalanan batin yang tak terhindarkan bagi siapa pun yang mengalami hidup dalam ketidakadilan dan penderitaan.

Tema: Duka, Ketidakadilan, dan Keheningan yang Berbicara

Di balik kata-kata sederhana yang dipilih dengan cermat, tersimpan tema besar yang menghantui zaman: dunia yang diliputi kegelisahan, bencana, dan ketamakan manusia yang memecah belah. Puisi ini secara subtil menyingkap betapa manusia — para pemegang kuasa — ikut andil dalam merangkai tragedi kemanusiaan lewat ambisi dan keserakahan yang membelenggu.

Namun, lebih dari sekadar kritik sosial, DIAM memancarkan kesunyian yang penuh makna. Diam dalam puisi ini bukanlah pasif, melainkan aktif. Ia adalah bentuk ekspresi tertinggi—ketika suara tak lagi didengar, ketika kebenaran tertindas, dan ketika air mata menjadi bahasa terakhir sebelum terlambat. Diam menjadi doa, tangis, dan seruan yang meskipun tak terucap, tetap menggema dalam kalbu kita.

Simbolisme: Lautan, Gunung Es, dan Wajah-Wajah yang Terasing

Dalam puisi ini, simbolisasi alam menjadi medium kuat untuk mengungkapkan kondisi batin dan sosial. Lautan duka dan air mata yang melimpah bukan hanya metafora kesedihan, tapi juga lautan penderitaan yang tidak bertepi, seolah komunitas manusia tenggelam dalam keputusasaan yang terkadang enggan terungkap.

Gunung es yang mencair sebagai penutup puisi menyimpan makna ambivalen—ia bisa berarti bencana besar yang mengancam, sebuah kekuatan alam yang tak terelakkan yang jika tidak segera disadari dan diatasi akan menenggelamkan seluruh negeri. Lebih daripada itu, gunung es itu juga simbol dari masalah-masalah tersembunyi, ketidakpedulian yang membeku di dalam hati dan pikiran manusia.

Abaian dari kata dan ucapan juga memperlihatkan wajah kemunafikan dan ketimpangan antara janji dan realitas, antara harapan dan kenyataan yang saling bertentangan.

Bahasa: Kekuatan dalam Kesederhanaan yang Menggetarkan

Bahasa puisi ini terpilih dengan sangat hati-hati, membolak-balik kata tanpa mengorbankan kesan emosional. Setiap kalimat terlahir dari jiwa yang merasakan kepedihan mendalam, dan itu bisa dirasakan oleh pembaca sebagai denyut nadi yang tak terputus. Pemilihan kata yang lugas dan apa adanya menghindarkan puisi ini dari kemewahan bahasa yang bisa membuat pembaca terlepas dari rasa.

Namun di balik kesederhanaan itu, tersembunyi kekuatan magis berupa ketegasan dan ketulusan, layaknya sebuah mantra yang tanpa cela menghantam kesadaran kolektif.

Pesan dan Ajakan: Kesadaran dan Harapan di Tengah Bencana

Puisi DIAM bukan sekadar kritik; ia adalah seruan untuk bangkit dan melihat kembali hakikat kemanusiaan. Ia mengingatkan pembaca bahwa musibah tidak lahir dari kehampaan, melainkan dari kebingungan dan keserakahan yang telah lama membusuk di ruang-ruang gelap kekuasaan.

Namun, dalam diam itulah tersimpan kesadaran. Diam bukanlah tanda ketidakpedulian, melainkan bentuk tangis yang dalam, yang tidak perlu diucapkan untuk terasa. Sebuah pengingat bahwa kemanusiaan masih ada dalam hati yang menangis, dan dari sana akan lahir kekuatan baru untuk perubahan.

Kesimpulan: DIAM sebagai Cermin Jiwa dan Seruan Masa Depan

Dalam konteks dunia yang terus bergulir dalam hiruk-pikuk informasi dan gejolak politik, puisi DIAM hadir sebagai renungan yang menyentuh. Ia menggugah nostalgia akan kemanusiaan yang terlupakan, menghadirkan diri sebagai suara yang tak bisa dibungkam. Di dalam kesunyian, puisi ini menuntut kita untuk membuka mata dan hati, menyelami kemanusiaan yang rapuh namun penuh harapan.

DIAM mengajarkan bahwa terkadang dalam kesunyian, justru terdengar suara paling nyaring: suara jiwa yang ingin membebaskan diri dari belenggu ketidakadilan dan kemunafikan. Pada akhirnya, di balik sunyinya diam, ada gelombang besar yang siap mengubah dunia.

Semoga puisi dan pesan di dalamnya dapat menginspirasi kita semua untuk merenungi dan bertindak demi kemanusiaan yang lebih beradab dan penuh kasih.

Batu, 15 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni