Lapar Itu Mantra
Karya: Eko Windarto
Lapar itu sebuah mantra,
menggema dari jutaan suara yang tenggelam,
dari bumi Sumatera yang perih, hingga tanah Aceh yang berdarah,
tercetak dalam setiap nafasku dan nafasmu, tersulam dalam udara pagi yang sendu.
Tuan, coba lihat dengan mata yang tidak buta,
rasakan denyut hati kami yang tidak hanya remuk,
tapi telah porak-poranda, pecah berkeping-keping dalam diam,
seperti kapal tua yang karam di samudra janji kosong.
Omongan tuan bagai angin yang lewat,
lelah mengitari langit tanpa membawa hujan,
sementara kenyataan menoreh luka di tanah lapang,
di mana data berbicara dalam bahasa sang jaringan,
lebih tajam dari tajamnya mata yang melihat tanpa redup.
Apa yang bisa tuan baca?
Apakah hanya huruf-huruf kering tanpa raut rasa?
Kami bukan sekadar angka dalam statistik,
bukan hanya catatan singkat yang terbuang di balik meja rapat.
Kami adalah hidup yang bergetar,
perjuangan yang tetap berdetak dalam diam,
lapar yang bukan hanya butuh perut terisi,
tapi keadilan yang harus direngkuh, harapan yang harus dibangun.
Lapar itu bukan sekadar kelaparan,
tapi teriakan jiwa yang sudah lama terkekang,
menggaung menjadi mantra,
agar tuan mengerti, bahwa kami masih ada,
dan kami menuntut untuk didengar, bukan hanya dilupakan.
Tuan, jangan tutup mata dan telinga,
karena kematian kami tidak akan tertulis di buku harianmu,
tapi akan menghantui setiap langkah yang tiada terasa tanggung jawab.
Bukalah hati, dan dengarkan mantra lapar kami,
yang telah melewati batas kata dan waktu,
mengukir sejarah baru tentang siapa kita,
dan bagaimana kita harus berjalan bersama,
menuju fajar yang memberi kita makan, dan memberi kita harapan.
Batu, 15122025
Komentar
Posting Komentar