Mendalami Bacaan, Meneguhkan Identitas
Oleh: Eko Windarto
Apa yang kita jalani hari ini mengingatkan saya pada kisah dialog Buya Hamka dengan seorang pria yang mengaku menemukan pelacur di Jeddah. Pria itu heran mengapa Buya tidak menemukan hal serupa ketika berada di Amerika. Dengan tenang, Buya Hamka menjawab, “Jika Anda mencari pelacur di Jeddah, Anda akan menemukannya. Namun, jika Anda tidak mencarinya di Amerika, Anda pun tidak akan menemukannya.”
Pesan dari Buya Hamka ini sangat dalam dan relevan: kita menemukan apa yang kita cari, kita menjadi seperti apa yang kita dekati, dan apa yang kita masukkan ke dalam pikiran kita akan membentuk siapa kita.
Risiko Bacaan Tanpa Kedalaman dan Kehilangan Arah
Fenomena “sedikit tapi banyak” dalam dunia bacaan modern sering kali menjadi jebakan. Dengan kemudahan akses informasi lewat internet dan media sosial, kita cenderung terbawa arus lajunya informasi tanpa menyerap makna yang mendalam.
Dalam buku The Shallows (2011), Nicholas Carr menulis bagaimana penggunaan internet menyebabkan penurunan kemampuan konsentrasi dan daya serap bacaan secara mendalam. Kita mengenal banyak istilah dan fakta, namun sulit menyatukannya menjadi suatu pemahaman utuh yang membentuk diri.
Dalam konteks ini, Buya Hamka mengingatkan kita bahwa semakin banyak kita membaca tanpa kedalaman, semakin besar risiko kehilangan arah. Kepala kita penuh kata-kata, tetapi hati dan jiwa tetap kosong. Kita mengoleksi wawasan, tetapi tidak memiliki pegangan hidup yang kokoh.
Kearifan Pilihan dalam Ilmu: Menjadi Seseorang yang Berintegritas
Banyak tokoh besar dunia yang menjunjung prinsip ini. Contohnya, Imam Al-Ghazali, seorang pemikir muslim abad ke-11 yang memilih menyendiri dan mendalami ilmu tertentu secara mendalam, daripada hanya terpaku pada banyak bacaan tanpa paham. Karyanya Ihya Ulumuddin menjadi kunci keilmuan spiritual dan akhlak yang masih relevan hingga kini. Al-Ghazali mengajarkan bahwa ilmu tanpa pengamalan adalah seperti pohon tanpa buah.
Hal ini juga berlaku dalam dunia kontemporer. Seorang ilmuwan seperti Albert Einstein menghabiskan waktu bertahun-tahun memegang satu topik khusus secara fokus. Fokus inilah yang membawanya kepada terobosan besar. Dalam konteks agama dan kehidupan sehari-hari, menghayati satu teks suci, seperti Al-Qur’an, menjadi sumber pengetahuan dan transformasi diri yang tiada habisnya.
Kedalaman Al-Qur’an: Sebuah Samudra Ilmu dan Hikmah
Sebagai muslim, kita diajak untuk melihat Al-Qur’an bukan sebagai buku biasa, melainkan sebagai samudra ilmu yang mengejawantahkan petunjuk hidup secara lengkap dan komprehensif. Melalui tafsir dan pemahaman mendalam, kita dapat menghayati pesan universalnya yang tak lekang oleh waktu.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani pernah berkata bahwa Al-Qur’an itu bagai “sumur tak bertepi,” kita ambil airnya sebanyak mungkin, lautan hikmah dan ilmu masih tersisa tanpa batas. Ini membuktikan bahwa mendalami satu sumber ilmu dengan kesungguhan jauh lebih bernilai daripada menghafal sekumpulan fakta yang berserakan dan cepat terlupakan.
Membatasi Diri untuk Memperoleh Kelapangan Hati
Dalam dunia modern yang penuh dengan distraksi, prinsip “less is more” atau “kurang itu lebih” menjadi sangat berharga. Saat kita menjauhkan diri dari godaan untuk mengejar segala informasi, kita memberi ruang bagi hati dan jiwa untuk tumbuh.
Dalam psikologi mindfulness, kita diajarkan untuk fokus pada satu hal dengan penuh kesadaran, bukan multitasking yang menguras energi mental. Ini mirip dengan prinsip mendalami bacaan utama sebagai jalan spiritual dan intelektual.
Membangun Identitas Lewat Bacaan yang Membentuk
Pada akhirnya, bacaan yang kita pilih dan dalami akan membentuk identitas kita. Jika kita memilih untuk terus mengejar bacaan yang dangkal dan beragam tanpa pemahaman, maka kita cenderung kehilangan arah dan pegangan hidup. Sebaliknya, jika kita fokus kepada bacaan yang membantu meneguhkan nilai dan karakter kita, maka kita akan tumbuh sebagai pribadi yang kuat, berintegritas, dan penuh hikmah.
Para ulama dan filsuf besar mengajarkan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang membawa perubahan pada diri sendiri dan lingkungan. Sebagaimana kata Imam Malik, “Ilmu itu bukan dengan banyaknya yang dihafal, tetapi yang bermanfaat.”
Kesimpulan: Pilih Bacaan, Bentuk Kehidupan
Pesan Buya Hamka dalam dialognya adalah pencerahan bagi kita untuk menyadari bahwa “apa yang kita cari, itulah yang kita temukan.” Mari kita cermati kembali cara kita memilih bacaan dan ilmu. Tidak harus membaca segalanya, tetapi membaca dan mendalami yang terpilih dengan sepenuh hati.
Dengan cara ini, kita tidak hanya tahu, tapi juga menjadi. Tidak hanya memiliki wawasan, tetapi juga pengalaman hidup yang bermakna dan membumi.
Referensi:
Carr, Nicholas. The Shallows. W.W. Norton & Company, 2011.
Ghazali, Al-. Ihya Ulumuddin.
Qadir Al-Jailani, Syaikh Abdul. Letter of the Region.
Kabat-Zinn, Jon. Wherever You Go, There You Are.
Batu, 15122025
Komentar
Posting Komentar