Sajak Sebatang Lisong: Sebuah Seruan dari Relung Kehidupan
Oleh: Eko Windarto
Puisi "Sajak Sebatang Lisong" karya W.S. Rendra merupakan karya monumental yang tak sekadar menggugah rasa, namun juga mengandung kritik tajam terhadap realitas sosial yang penuh luka pada masa Indonesia di era 1970-an. Dengan bahasa yang lugas namun penuh simbolisme, Rendra menelanjangi ketimpangan serta ketidakadilan yang membelenggu bangsanya. Membaca puisi ini bagaikan menelusuri lorong-lorong gelap kehidupan, tempat kesenjangan mekar tanpa hambatan, dan suara-suara rakyat kecil teredam di bawah tumpukan kebijakan yang jauh dari realitas.
Sajak Sebatang Lisong
Karya: W.S Rendra
Menghisap sebatang lisong,melihat Indonesia Raya, Mendengar 130 juta rakyat,dan di langitdua tiga cukong mengangkangberak di atas kepala mereka.
Matahari terbit.Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanaktanpa pendidikan.
Aku bertanya tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet,dan papan tulis-papan tulis para pendidikyang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang tanpa pilihan tanpa pepohonan tanpa dangau persinggahan tanpa ada bayangan ujungnya……………………………Menghisap udara yang disemprot deodorant,aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya;aku melihat wanita buntingantri uang pensiunan.
Dan di langitpara teknokrat berkata:
bahwa bangsa kita adalah malasbahwa bangsa mesti dibangun, mesti di-upgrade, disesuaikan dengan teknologi yang diimpor.
Gunung-gunung menjulang
Langit pesta warna di dalam senja kala.
Dan aku melihatprotes-protes yang terpendam,terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanyatetapi pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon,yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan berkunang-kunang pandang matanya,di bawah iklan berlampu neon.
Berjuta-juta harapan ibu dan bapakmenjadi gebalau suara yang kacau,menjadi karang di bawah muka samodra.………………………………………..Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,tetapi kita sendiri merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,keluar ke desa-desa,mencatat sendiri semua gejala,dan menghayati persoalan nyata.
Inilah sajakku.
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan:
Apakah artinya berpikir,bila terpisah dari masalah kehidupan.
I.T.B. Bandung, 19 Agustus 1977
Dimensi Realitas Sosial dalam Puisi
Rendra mampu menghadirkan gambaran sosial yang keras dalam baris-baris puisinya. Ia menyuarakan jeritan delapan juta kanak-kanak yang terabaikan, tanpa kesempatan untuk menapaki jalur pendidikan, sebuah prahara kemanusiaan yang membungkam masa depan bangsa. Ketiadaan daun pohon tempat bernaung, dangau persinggahan, bahkan bayangan ujung jalan, menggambarkan kegelapan panjang yang membentang tanpa harapan.
Dalam ironi yang tajam, Rendra menelisik nasib sarjana yang berkeringat menunggu pekerjaan di jalanan, para wanita muda yang harus mengantre demi uang pensiun—sebuah pemandangan menyayat di mana harapan berubah menjadi perjuangan sepi. Semua ini menjadi cermin retak yang memantulkan kegagalan sistem untuk menjawab kebutuhan dasar rakyatnya.
Kritik terhadap Pemerintah dan Elite Politik
Di balik lanskap sosial yang membara, Rendra tidak ragu memosisikan dirinya sebagai pengkritik tajam pemerintah dan elit politik. Para teknokrat yang berkomentar sinis bahwa bangsa ini bermalas-malasan, dan menyodorkan “upgrade” teknologi sebagai solusi instan, disampaikannya dengan nada sinis dan penuh kecam. Tata pemerintahan yang macet dan pendidikan yang terlepas dari persoalan nyata, menegaskan betapa sistem telah kehilangan sentuhan dengan denyut kehidupan rakyatnya sendiri.
Rendra dengan penuh kegetiran menyingkap keadaan ini seakan mengingatkan bahwa pembangunan tanpa fondasi manusia yang kuat adalah semu dan rapuh. Kritik ini menjadi lentera yang menuntun pembaca untuk lebih kritis terhadap segala narasi pembangunan yang tak berakar pada kesejahteraan rakyat.
Mengajak Keterlibatan dan Kesadaran Kolektif
“Sajak Sebatang Lisong” adalah seruan agar kita keluar dari kepasrahan dan sekadar menelan mentah-mentah rumus-rumus impor. Dalam bait yang membara, Rendra mengajak untuk “keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan nyata.” Panggilan ini bukan semata seruan pada tindakan fisik, melainkan juga panggilan pada kesadaran kritis dan empati yang tulus terhadap sekeliling.
Rendra menuntut agar bangsa ini mengambil langkah proaktif dalam merumuskan solusi, bukan sekadar menerima teori dan metode dari luar yang mungkin tak lagi pas untuk konteks sosialnya. Ia mengajak kita untuk membaca dan merasakan denyut nadi masyarakat secara langsung, agar solusi yang lahir bersifat organik dan bermakna untuk kemajuan bangsa.
Peran Seni Sebagai Cermin dan Pelopor Perubahan
Dalam puisinya, Rendra juga memunculkan pertanyaan mendalam tentang arti kesenian sejati. Ia menuding para penyair salon yang larut dalam keindahan anggur dan rembulan, tanpa menyentuh kenyataan pahit di sekitar mereka. Ini adalah kritik elegan terhadap seni yang terlepas dari akar sosialnya, sehingga hanya menjadi hiburan kosong tanpa daya membangkitkan kesadaran ataupun perubahan.
Bagi Rendra, seni harus menyatu dengan derita lingkungan dan menjadi cermin yang memperlihatkan wajah kemanusiaan yang terluka. Seni bukan sekadar ungkapan estetika, melainkan harus menjadi medium yang menggerakkan, membangunkan, dan memobilisasi kekuatan kolektif untuk menggugah keadilan dan kemanusiaan.
Panggilan Aksi: Saung Perubahan dalam Derita
Puisi ini mengakhiri dengan sebuah pamplet masa darurat, tempat Rendra menempatkan diri sebagai teladan kesadaran dan aksi. Ia menegaskan betapa sia-sianya berpikir jika terputus dari realitas kehidupan. “Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?” menjadi hujah terakhir yang membakar semangat pembaca agar tak hanya jadi penonton pasif, melainkan penggerak nyata dalam membangun keadilan sosial.
Melalui puisinya, Rendra menyalakan obor pemberontakan terhadap ketidakadilan dan ketimpangan, serta mengajak semua elemen masyarakat untuk bergerak bersama menuju transformasi sosial yang bermakna dan berkelanjutan.
Biodata Singkat Sang Penyair
W.S. Rendra, nama lengkapnya Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir pada 7 November 1935 di Surakarta, Jawa Tengah. Sebagai salah satu sastrawan besar Indonesia, karya-karyanya kerap mengusung tema-tema sosial, kemanusiaan, dan kritik terhadap ketidakadilan. Ia berpulang pada 6 Agustus 2009 di Depok, Jawa Barat, meninggalkan warisan sastra yang abadi dan penuh inspirasi.
Penutup
"Sajak Sebatang Lisong" bukan sekadar puisi biasa. Ia adalah bentangan jiwa yang menjerit, seruan bernyali untuk mengubah nasib bangsa. Dengan kekayaan bahasa penuh simbol dan ironi, Rendra mengingatkan kita agar tak terlena dalam keindahan semu dan teori kosong. Ia mengajarkan agar seni dan penggunaan akal harus berakar pada realita dan penderitaan manusia, sehingga karya yang lahir tidak hanya indah dipandang, namun juga memiliki kekuatan menggerakkan perubahan sosial.
Lewat sajak ini, kita diajak merenungi dan bertindak; keluar dari kebisuan dan ketidakpedulian, menyulam kerinduan pada keadilan dan pendidikan sebagai fondasi masa depan bangsa. Sebatang lisong yang dihisap Rendra tak hanya menjadi alat untuk menangkap inspirasi, tetapi juga menjadi simbol pergulatan dan pemikiran kritis yang harus terus menerus dijaga agar Indonesia merdeka tidak hanya dari penjajahan fisik, tetapi juga dari ketertindasan sosial dan ketidakadilan yang menggurita.
Selamat merenungi, selamat berjuang.
Batu, 13122025
Komentar
Posting Komentar