DENTUMAN GOLADO DI MANINJAU


Karya: Eko Windarto 

Sejak malam pergantian tahun tiba

Aku menatap langit muram Sumatra Barat,

menyusuri aliran kabar yang mengalir deras di linimasa,

tapi hatiku terpaku pada Maninjau,

tempat di mana bukit-bukit mendengarkan suara Golado.

Rabu, tiga puluh satu Desember dua ribu dua puluh lima malam,

hujan turun tanpa jeda mengukir nganga luka.

Dan Maninjau, sejak akhir November telah dilanda galodo.

Gelisah dalam dekap banjir bandang dan galodo susulan susul menyusul.

Dentuman itu, panggi memanggil Longsoran, bumi murka,

berhembus di tepi bukit Kelok 25,

di Jorong Kuok Tigo Koto, tempat tanah berbicara dengan bebatuan,

mengalirkan lumpur dan kayu dalam naga deras menuju Muaro Pisang, di tepi Danau, yang diamnya bagai saksi bisu.

Batu dan lumpur memeluk jalan utama,

mengunci, memutus denyut kehidupan yang lalu-lalang,

rumah-rumah, kedai, vila—semua luluh lantak,

hingga rumah lenyap dalam amukan ibu bumi,

sementara ratusan lainnya terjebak dalam pelukan lumpur kelabu.

Di kantor, di sekolah, di hati warga,

material bercampur air mengaburkan asa dan cerita. 

Ekskavator terkurung dalam dominasi tanah gundah gulana:

lagi-lagi alat manusia kalah oleh kemarahan tanah.

Warga binaan di Rumah Tahanan Kelas IIB merasa dunia mengerut,

terperangkap antara jeruji dan derita.

Irwan, lelaki tua berusia enam puluh lima tahun,

dengan mata yang masih teduh meski dihantui trauma,

melangkah menjauh dari rumah, pindah ke atap sekolah,

mengungsi dalam benteng harapan yang terbuat dari doa dan luka.

“Dentuman itu, suara batu yang berbenturan,

membuat kami terguncang hingga tulang,

hingga jiwa yang bersemayam di balik dinding-dinding rumah

turun ke jalan bersama air menggila,” katanya,

suara lirih yang menembus kelam malam.

Sehari-hari Maninjau, tanah kelahiran dan peristirahatan,

menjadi saksi pada keperihan kulminasi alam.

Seratus enam puluh kepala keluarga, empat ratus enam puluh jiwa,

berjibaku dengan deru air dan lumpur,

melarikan diri dari cengkraman galodo mengincar.

Akses jalan berdekapan erat dengan kehidupan,

terjerat oleh tumpukan lumpur setinggi satu meter,

menghalang harapan untuk melintas,

mengisolasi cerita dan tangis di balik lereng yang geleng-geleng.

Hujan belum juga reda ketika fajar beranjak,

material galodo melambai sepanjang tujuh puluh meter,

membentuk tirai kelabu dari bumi yang menangis.

Kamera Rudi merekam luka tanah,

pasar yang dulu berdenyut kini terbelah sungai lumpur,

rumah-rumah terjuntai lemah, atap miring,

kadang amblas seperti harapan yang tergerus waktu.

Danau Maninjau, permadani air tenang,

menyimpan misteri, menyorongkan ketenangan mengiris,

memandang bisu pada luka di pinggirannya,

menjadi tembok sunyi di antara ratapan bumi.

Pasar usai banjir, jadi hamparan luka,

jalan utama memeluk pasir dan batu,

menjadi lamun licin pelipur dosa alam semesta,

rumah-rumah kusam, tetes air mata dalam debu lumpur,

bisik pasrah dan waspada menyatu dalam suara angin berdebu.

Bukit di kejauhan, agung dan muram,

pakai mahkota awan tipis, berdiri kokoh meski menyimpan pesan keras:

tanah kehilangan ikatannya, hutan lelah memegang janji,

hujan tak meresap, melainkan meluncur deras tanpa jemari penahan.

Warga mengenang gemuruh di hulu,

suaranya seperti bisikan alam sebelum amukan pecah,

longsoran mencipta alur baru, alur bahaya,

menenggelamkan jalur lama dalam ibu kota harapan.

Curah hujan tinggi mencekik setiap sudut,

manusia dan alam berpelukan dalam kisah genting,

wilayah selingkar Danau Maninjau berdiri rapuh,

berhiaskan bukit dan lembah yang berubah menjadi jurang ancaman.

Dalam rumitnya alur kehidupan dan alam,

kesiapsiagaan adalah tanggapan tak terelakkan,

bukan pilihan, melainkan keharusan yang membentang

di seluruh penjuru hati dan tanah terkasih ini.

Tahun baru 2026 membawa duka dan doa,

jejak-jejak galodo seperti luka terbuka di halaman bumi,

menggugah kita semua, pelajaran tanpa kata,

agar kita peduli, bersahabat dengan alam,

agar derita tak terus berulang seperti gelombang.

Semoga warga Maninjau yang teruji diberi ketabahan,

kekuatan memanen harapan dari reruntuhan dan tangis,

sehingga esok yang datang adalah pelita baru,

menyinari hari-hari yang lebih damai di bawah langit Sumatra Barat.

Batu, 212026

Catatan:

Puisi esai ini adalah penghormatan bagi mereka yang ikut merasakan dan memotret fragmen duka, serta doa sempurna untuk alam dan manusia yang terus berdamai.

Judul langsung mencerminkan inti cerita: "Dentuman" menggambarkan suara keras longsoran, "Galodo" adalah istilah lokal untuk longsor atau banjir bandang, dan "Maninjau" menunjukkan lokasi kejadian. Dengan begitu, pembaca segera memahami fokus utama tulisan.

Menurut The Elements of Journalism (Kovach & Rosenstiel, 2010), judul harus singular, spesifik, dan relevan dengan isi, supaya mampu menarik perhatian dan menyampaikan konteks dengan ringkas. Judul ini memenuhi kriteria tersebut.

Dalam karya sastra puitis atau esai, judul yang mengandung kata-kata sensori seperti "Dentuman" dan tematik seperti "Galodo" memberikan nuansa dramatik sekaligus konkret. Hal ini sesuai dengan prinsip penulisan kreatif yang diajarkan di materi Creative Writing oleh John Dufresne (2001).

"Galodo" merupakan istilah lokal yang kuat mewakili fenomena longsor dan banjir bandang di Sumatra Barat, seperti juga diakui dalam laporan kebencanaan BNPB dan kajian ilmiah terkait bencana geologi di Indonesia (BNPB, 2025). Menonjolkan istilah ini di judul membantu pembaca memahami konteks lokal bencana secara spesifik.

Secara keseluruhan, judul "Dentuman Galodo di Maninjau" memenuhi standar efektivitas komunikasi dan estetika penamaan karya yang diakui dalam jurnalistik dan literatur, sehingga sangat cocok digunakan untuk puisi esai ini.

Referensi:

Kovach, B., & Rosenstiel, T. (2010). The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect. Three Rivers Press.

Dufresne, J. (2001). Writing Fiction: Theory and Practice. Longman.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2025). Laporan Kebencanaan Tahun 2025.

Majalah Elipsis. (2026). Suara Dentuman Keras di Dinding Bukit, Maninjau Kembali "Dihondoh" Galodo oleh Muhammad Subhan.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni