Cahaya Ceria di TK Negeri Pembina Kota Batu: Menyulam Geometri dalam Pendar Warna dan Eksplorasi Sensorik

Anak-anak saat diajak mengekplorasi dunia visual melalui light table dan proyektor sederhana 

Suasana ruang kelas di TK Negeri Pembina Kota Batu tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada lampu terang benderang yang menerangi seluruh ruangan, melainkan pendaran cahaya warna-warni dan bayangan artistik yang menghiasi dinding kelas.

Melalui program bertajuk “Cahaya Ceria,” sekolah ini memperkenalkan metode pembelajaran inovatif yang memanfaatkan media cahaya untuk mengenalkan bentuk geometri sekaligus mengasah kemampuan sensorik peserta didik.

Kegiatan ini mengajak anak-anak untuk mengeksplorasi dunia visual melalui light table (meja cahaya) dan proyektor sederhana. Dengan menggunakan benda transparan berbentuk lingkaran, segitiga, dan persegi, para siswa diajak menyusun pola di atas sumber cahaya tersebut.

Kepala TK Negeri Pembina Kota Batu menyampaikan bahwa inovasi ini bertujuan memberikan pengalaman belajar yang konkret namun menyenangkan. 

“Kami ingin anak-anak tidak hanya menghafal nama bentuk, tetapi juga merasakan langsung bagaimana cahaya bekerja. Saat mereka meletakkan balok transparan di atas meja cahaya, mereka belajar tentang dimensi, warna, dan presisi secara natural,” ujarnya saat ditemui awak media pada Senin (23/2/2026).

Selain mengenalkan geometri, metode “Cahaya Ceria” juga dirancang khusus untuk stimulasi sensorik. Dalam salah satu sesi, anak-anak diminta menangkap bayangan bentuk yang bergerak di dinding. Aktivitas ini terbukti efektif melatih koordinasi mata dan tangan (koordinasi visual-motorik) serta meningkatkan konsentrasi anak.

Tri Ulfa Rosida, guru pendidikan anak usia dini pendamping kegiatan, menjelaskan bahwa stimulasi visual melalui permainan cahaya mampu mengaktifkan sel saraf otak secara optimal. 

“Permainan cahaya dan bayangan menciptakan rasa ingin tahu yang tinggi. Secara tidak sadar, anak-anak sedang berlatih memecahkan masalah saat mereka mencoba menyesuaikan jarak benda agar bayangan terlihat jelas,” ungkapnya.

Suasana ceria mewarnai kelas ketika anak-anak mulai membuat pola geometri bercahaya. Mereka berdecak kagum saat sebuah benda kecil mampu memproyeksikan bentuk bintang atau kotak besar yang bercahaya di dinding.

Salah satu orang tua siswa mengaku sangat mendukung program ini. Menurutnya, pendekatan seperti ini membuat anak semangat berangkat ke sekolah. 

“Anak saya jadi sering bercerita tentang ‘sihir cahaya’ di kelas. Sebagai orang tua, saya senang karena edukasi formal dikemas dengan cara yang kreatif sehingga anak merasa belajar dengan menyenangkan, bukan dipaksa,” ujarnya.

TK Negeri Pembina Kota Batu berharap program “Cahaya Ceria” mampu menjadi inspirasi satuan pendidikan lain di Kota Wisata ini untuk terus berinovasi menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak dan futuristik.

Dengan memadukan teknologi sederhana dan kurikulum merdeka, sekolah ini membuktikan bahwa belajar geometri tidak harus kaku, melainkan bisa semenarik pendar cahaya di kegelapan.

Penulis: Win

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni