Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Nyanyian Tanah yang Menganga

Karya: Eko Windarto 

Di balik sunyi Desa Pondok Balik,
terhampar luka bumi yang terus merengsek.
Dalam lekuk tanah yang merekah,
cerita panjang bergulir tanpa kata.

Sejak tahun dua ribu sebelas,
tanah bersuara dalam gerak,
menghidupkan lukisan alam
yang perlahan menganga.

Meluas ia, menyapu ruang
tiga hektare penuh harap,
mengancam permukiman,
menanti langkah manusia.

Bukan sekadar lubang biasa,
bukanlah gelap amblesan,
melainkan pergerakan tanah
yang dalam dan halus bisikannya.

Tim geologi dan BPBD
menelisik dalam kesabaran,
membaca tiap retak,
mencari makna di dasar keberadaan.

Aceh Tengah pun terjaga,
waspada dalam doa dan usaha,
merangkul bumi dengan ilmu,
menghindari bencana yang menimpa.

Kampung Pondok Balik menanti
kejelasan musim,
dan kita diajak mendengar:
bagaimana bumi bernyanyi dalam sunyi ini.

Lubang raksasa bukan sekadar lubang,
ia adalah nyanyian, undangan, dan peringatan.

Maka marilah kita dengar,
resapi dan renungkan,
agar bumi dan manusia
tetap berpelukan.

Batu, 2522026

Catatan:

Sumber data dan informasi utama puisi ini berasal dari laporan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah terkait pergerakan tanah di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Fenomena ini telah dicatat sejak 2011 dan terus dipantau melalui kajian geologi dan survei geofisika hingga tahun 2025, dengan luas longsoran mencapai hampir 3 hektare.

Adapun keterangan tambahan berasal dari pernyataan ahli geologi, seperti Guru Besar Teknik Geologi UGM, yang menegaskan bahwa lubang ini bukanlah sinkhole biasa melainkan fenomena pergerakan tanah yang kompleks.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni