Mokel, Godin, dan Istilah Puasa yang Bikin Ramadhan Makin Seru: Memahami Tradisi dan Bahasa Gaul di Bulan Suci


Oleh: Eko Windarto 

Ramadhan bukan cuma tentang menahan lapar dan dahaga, tapi juga kaya akan tradisi serta istilah unik yang muncul dan melekat di masyarakat kita. Tahun 2026 ini, istilah-istilah seperti mokel, mokeh, godin, hingga tempus kembali ramai dibicarakan. Apa sebenarnya makna di balik kata-kata tersebut? Mari kita ulas dengan gaya santai dan reflektif, sekaligus sedikit humor agar puasa kita tidak sekadar berhenti di perut yang lapar, tetapi juga di pikiran yang segar dan jiwa yang ringan.

Bahasa Puasa: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar

Setiap Ramadhan, masyarakat Indonesia tak hanya sibuk menyiapkan takjil atau tarawih, tapi juga tanpa sadar menggunakan beragam istilah yang berputar di lingkar sosial dan budaya. Bahasa adalah cermin dari jiwa kolektif, dan kata-kata seperti mokel dan godin adalah contoh nyata bagaimana bahasa lokal dan gaul saling mempengaruhi, memberi warna tersendiri dalam tradisi puasa.

Menurut data survei kebudayaan lokal yang dilakukan oleh Universitas Indonesia tahun 2025, hampir 70% responden mengaku sering mendengar istilah-istilah ini dalam lingkup keluarga dan pertemanan selama Ramadhan. Fenomena ini bukan hanya soal kata-kata belaka, tapi wujud dinamika sosial yang menarik untuk diamati.

Mokel dan Mokeh: "Pembatal Puasa Diam-Diam" yang Mengundang Senyum

Istilah mokel atau mokeh merujuk pada orang yang membatalkan puasanya sebelum waktu magrib, tapi secara diam-diam tanpa mengumbar alasan itu ke publik. Kebiasaan ini mungkin terjadi karena berbagai alasan: mulai dari kelelahan, kesehatan yang menurun, hingga godaan makanan yang terlalu menggoda.

Mengapa harus diam-diam? Ada semacam “kode tak tertulis” yakni menjaga kehormatan dan rasa malu agar tidak dicap lemah iman. Namun, dari sudut pandang psikologis, transparansi dan komunikasi yang jujur soal kondisi kita selama berpuasa bisa jadi jauh lebih sehat, baik fisik maupun mental.

Bayangkan saja, jika kita terlalu "mokel" di dalam hati dan menutup rapat alasan kita, terasa seperti membawa beban rahasia yang malah membuat puasa jadi makin berat. Jadi, berhentilah menahan sendiri dan belajar saling memahami — bahkan dalam hal kecil seperti puasa.

Godin: Sebutan Unik dari Tanah Sunda

Di kalangan masyarakat Sunda, istilah godin adalah sinonim dari mokel. Secara harfiah, kata ini membawa nuansa lokal yang kental, memperlihatkan kekayaan bahasa daerah yang tetap hidup dan berkembang di tengah arus globalisasi.

Seni bahasa ini penting untuk dijaga, karena selain menguatkan identitas, juga mempererat solidaritas sosial saat menjalani bulan penuh berkah. Seperti kata pepatah, "bahasa adalah jendela budaya," maka godin dan istilah sejenis adalah jendela kecil yang mengundang kita untuk melihat lebih dalam ke dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim Indonesia.

Tempus: Istilah yang Mungkin Baru bagi Banyak Orang

Selain mokel dan godin, istilah tempus juga ikut meramaikan perbendaharaan kata selama Ramadhan. Mungkin, istilah ini belum setenar kedua kata sebelumnya, tapi keberadaannya menambah bumbu dalam percakapan sehari-hari.

Dalam konteks latin, tempus berarti waktu, dan bisa jadi istilah ini dipakai untuk menunjukkan seberapa ketat atau longgarnya seseorang mengatur waktu dalam menjalankan ibadah puasa. Mengelola tempus dengan bijak adalah tantangan tersendiri, apalagi di zaman yang serba cepat dan penuh distraksi.

Pelajaran dari Istilah-istilah Puasa

Menariknya, istilah-istilah ini mengajak kita untuk tidak hanya menjadi pelaku pasif dalam ritual puasa, tapi juga menjadi pengamat kritis dan reflektif terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Apa yang kita lakukan selama Ramadhan—apakah sekadar menjalankan kewajiban, ataukah memaknai setiap aspek kecil yang muncul di sekitar kita?

Mokel, godin, dan tempus adalah semacam kode sosial yang mengingatkan kita bahwa puasa bukan sekadar tahan lapar, tapi soal ketulusan, kejujuran, dan kebersamaan. Malah, istilah ini mendorong kita untuk meleburkan hina dan luhur dalam satu kesatuan yang utuh: manusia yang berusaha memperbaiki diri.

Penutup: Menikmati Ramadhan dengan Cerdas dan Penuh Makna

Ramadhan 2026 mengajarkan kita bahwa bahasa, tradisi, dan spiritualitas berjalan beriringan. Jangan sampai kata-kata seperti mokel dan godin menjadi bahan olokan semata, tapi jadikanlah mereka pemicu dialog dan refleksi tentang bagaimana kita menjalani ibadah ini dengan sepenuh hati.

Kalau sudah begitu, mungkin puasa bukan lagi soal "menahan haus dan lapar" tapi juga tentang "menahan ego dan prasangka." Selamat menjalani Ramadhan dengan hati yang ringan dan pikiran yang terbuka—dan jangan lupa, kalau terasa mau mokel, ceritakan saja, agar berat jadi ringan, dan Ramadan jadi lebih bermakna.

Batu, 2822026

Referensi:

Survei Kebudayaan Lokal oleh Fakultas Ilmu Budaya UI, 2025

Artikel dan laporan resmi Jadwal Imsakiyah Kota Jakarta, Februari 2026

***

 

.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni