Menjadi Akademisi Sejati: Lebih dari Sekadar Kapital di Kampus
Oleh: Eko Windarto
Di tengah arus globalisasi dan kapitalisme yang semakin deras, dunia akademik sering kali terjebak hanya sebagai alat produksi ekonomi. Namun, esensi sejati kampus adalah menjadi ladang subur bagi karya literasi, sains, dan teknologi yang bermakna.
Melalui refleksi pemikiran Soe Hok Gie dan para pemikir humanis lainnya, artikel ini mengajak kita untuk menegaskan kembali pentingnya berkarya demi nilai kebudayaan dan perubahan, bukan sekadar kapital global.
Jika kita menengok realitas kampus saat ini, tak jarang kita menemukan bahwa fokus utama terkadang terarah ke pengukuran jumlah publikasi dan keuntungan ekonomi yang bisa diraih. Kampus menjadi semacam “pabrik” yang memproduksi output demi memenuhi tuntutan pasar global. Padahal, jika menelisik lebih dalam, tujuan inti dari dunia akademik adalah menjulang sebagai benteng karya literasi, pengembangan sains yang inovatif, dan teknologi yang bermakna bagi kemanusiaan.
Kampus: Bukan Sekadar Mesin Kapital
Dalam lanskap akademik modern, perusahaan besar dan institusi sering “menyuntikkan” nilai kapitalisme ke dalam sistem. Namun, seperti diingatkan oleh Soe Hok Gie, aktivis dan intelektual muda Indonesia yang kritis pada zamannya, kampus seharusnya tidak dijadikan hanya sebagai alat bau-bauan global. Gie, dalam catatan harian dan esainya, menekankan pentingnya keberanian intelektual dan kejujuran hati dalam berkarya.
Dalam konteks ini, “berkarya” berarti menyumbangkan ilmu dan gagasan yang tidak hanya dipandang dari sisi manfaat ekonomi, tetapi juga kebermanfaatannya terhadap pemahaman manusia tentang dirinya dan dunia.
Literasi: Jantung Peradaban Akademik
Jika sains dan teknologi adalah alat, literasi adalah jantungnya. Literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis, namun juga mampu memahami, mengkritisi, dan mentransformasi dunia.
Gabriel Zaid, seorang penulis dan pemikir Meksiko, pernah bilang, "The book is the technology that unlocks the human mind." Dalam dunia yang serba cepat, literasi menjadi penyangga agar kita tidak menjadi budak dari arus informasi yang deras dan dangkal.
Dalam konteks kampus, karya literasi menjadi medium penting untuk mengembangkan kepekaan sosial dan wawasan kritis. Di sinilah mahasiswa dan akademisi harus dipandu untuk tidak sekadar mengejar angka publikasi, melainkan mengejar kualitas gagasan dan makna mendalam.
Sains dan Teknologi: Untuk Siapa Kita Berkarya?
Sains dan teknologi dunia saat ini berkembang sangat cepat — alih-alih menjadi alat untuk menggapai kesejahteraan seluruh umat manusia, tidak sedikit yang justru memperdalam jurang ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan.
Refleksi Soe Hok Gie sekaligus kritik terhadap modernitas ini mengajak kita memahami bahwa inovasi sejati adalah yang mengutamakan kemanusiaan di atas segalanya.
Misalnya saja, kemajuan teknologi pertanian yang mampu menurunkan ketergantungan impor pangan atau teknologi ramah lingkungan untuk menjaga keberlanjutan bumi. Di sinilah sinergi antara literasi, sains, dan teknologi harus dijaga — bukan hanya demi citra kampus atau profit, tapi demi dunia yang lebih baik.
Membangun Akademisi Berjiwa Literasi dan Kemanusiaan
Bagaimana caranya? Pertama, dukung lingkungan akademik yang membuka ruang diskusi mendalam, lewat kolaborasi lintas disiplin, agar gagasan tidak terjebak dalam silo akademik. Kedua, dorong budaya akademik yang memaknai karya sebagai bentuk pengabdian, bukan sekadar pencapaian karier. Ketiga, tanamkan nilai keberanian intelektual untuk mengkritisi arus utama tanpa takut kehilangan “gelar” atau “duit”.
Penutup: Sebuah Ajakan Reflektif
Seperti Soe Hok Gie yang menolak menyerah pada kekecewaan sosial dan memilih bertindak lewat karya tulis dan tindakan nyata, kita diajak kembali merenungkan: Apa sebenarnya tujuan kita dalam dunia akademik? Apakah hanya mengejar angka dan modal? Ataukah kita ingin menjadi akademisi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berjiwa literasi dan kemanusiaan?
Kampus ideal adalah laboratorium gagasan dan karya, tempat kita berani bermimpi dan membentuk dunia bukan hanya demi kapital global, tapi demi makna sejati kehidupan. Mari, berkarya bukan sekadar untuk titipan ijazah, tetapi untuk titipan masa depan.
Referensi dan Rujukan:
Catatan Harian dan Esai Soe Hok Gie, sebagai sumber pemikiran kritis tentang akademik dan masyarakat.
Gabriel Zaid, "Reading and the Technology of the Book," sebagai inspirasi literasi sebagai fondasi intelektual.
Data UNESCO (2022) menunjukkan peningkatan publikasi akademik global, namun masih rendahnya dampak sosial dari sebagian besar karya ilmiah.
Bagaimana menurut Anda? Apakah kampus Anda sudah menjadi ladang subur berkarya bermakna, atau masih terjebak dalam perkebunan kapital? Yuk, bagikan artikel ini dan mulai diskusi! Siapa tahu, langkah kecil kita hari ini adalah cikal bakal perubahan besar esok hari.
Sekar Putih, 3132026
Komentar
Posting Komentar