Selamat Menikmati Kesepian di Gurun Pasir, Tuan Presiden


Selamat menikmati kesepian di gurun pasir, Tuan Presiden,

Di sebuah lahan luas yang sunyi, tanpa gema tepuk tangan Nato.

Tanpa sorak sorai kerumunan yang biasa mengelilingi langkah

Hanya angin memainkan simfoni sunyi antara butir-butir pasir

Di sini, di tengah lautan Hormuz 

Ombak menjadi ranjau

Angin menjelma rudal balistik 

Batu karang mengibarkan bara bagi kapal-kapal tak berdosa

Kekuasaan, memang bukan hanya soal gemerlap

Tetapi soal bagaimana menata hati yang kerap terombang-ambing

Seperti karavan yang berjalan tanpa peta, mencari oasis dalam jiwa

Satu butir pasir di gurun ini—apakah kurang berarti dibanding ribuan janji yang terucap?

Atau justru lebih abadi daripada kibaran bendera yang cepat pudar oleh waktu?

Tuan Presiden, ingatlah, di dalam kesepian yang menggigit ini,

Adalah ruang untuk merenung, di mana pikiran menemukan pijakan yang sejati

Karena di dunia yang penuh kebisingan politik dan janji yang menggema

Kebohongan diracik akustik kecerdasan teknologi sempurna di depan mata 

Dan kesepian adalah guru yang paling jujur, tanpa topeng, tanpa kompromi

Di sinilah Anda berdamai dengan bayangan sendiri

Menyadari bahwa sejatinya, jabatan hanyalah kerang di tepian laut yang luas

Mari duduk sejenak di bawah langit yang membentang tak bertepi

Merasakan deburan angin yang membawa bisikan sunyi, bukan bising klakson

Karena kadang, dalam hening gurun itu, tersimpan rahasia 

Dan untuk kita semua—yang menatap dari kejauhan dan menunggu isyarat

Selamat menikmati kesepian ini bersama Tuan Presiden, sebagai pelajaran

Keberanian terbesar adalah berani berdiri sendiri

Di tengah pasir waktu, menemukan wujud asli dari sebuah kepemimpinan

Sekar Putih, 3032026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni