Di Antara Perang dan Damai: Refleksi Konflik Iran-Amerika”


Karya: Eko Windarto 

Di bawah langit yang memerah oleh kabut senja
Masoud Pezeshkian berdiri, megah dan tegar, mengangkat tiga syarat—seperti mantra dan doa, hak yang dulu hilang, ganti rugi yang terlupakan, janji ketenangan yang harus diikat dalam perjanjian dunia.

Sejak 28 Februari, dunia bagai bola api yang meledak-ledak.

Seribu dua ratus nyawa hilang bagaikan butiran pasir

Jeritan mereka menggema di lembah waktu

Namun, di balik pidato kemenangan Donald Trump,

terdengar dentuman peluru belum bernyanyi habis.

Apa arti ‘kemenangan’ ketika darah masih mengalir?

Apakah ia seperti bayangan yang menari di dinding, indah namun hampa, nyata tapi palsu?

Perang ini bukan sekadar duel senjata 

Ia adalah perang diam di ruang-ruang hati

Perang jiwa yang retak oleh dendam dan luka

Di antara kehancuran, suara-suara terpinggirkan menuntut

Putri Bung Hatta dan istri Munir mendesak solidaritas

Namun apakah kita hanya mampu menyimak?

Ataukah kita berani membuka mata kita?

Melihat lebih dari politik dan ego,

merasakan getir yang sama dalam derita manusia?

Perang, dan segala ambisinya, adalah pelajaran pahit

Tentang bagaimana kita mudah membungkam nurani kita sendiri

Tentang bagaimana kata ‘damai’ sering tertukar makna dengan ‘menyerah’

Namun damai sejati adalah keberanian untuk mendengar,
keberanian untuk memaafkan, dan membangun ulang harapan.

Mari kita jadi lebih dari saksi bisu
Mari kita jadi pejuang sevibrasi

Yang dengan kata dan rasa, menyulam benang-benang perdamaian

Di tengah badai yang mengaduk-aduk peradaban, ada nada hening yang penuh arti lindap dalam rasa kemanusiaan.

Ketika langit gelap dan api membara, itu bukan hanya pertunjukan kekuatan, melainkan seruan bagi seluruh umat manusia untuk introspeksi. 

Kita semua terlibat, bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai penjaga masa depan bersama.

Jangan biarkan kemenangan dianggap lengkap saat hanya sebatas gelar politik — mari letakkan perdamaian sebagai puncak dari segala kemenangan.

Karena sejatinya, dunia yang damai adalah maha karya tertinggi dari akal, hati, dan keberanian kita bersama.

Sekar Putih, 742027

Catatan:

Puisi esai ini didramatisasikan dari adaptasi pernyataan resmi Presiden Iran mengenai tiga syarat perdamaian. Teheran Times, 12 Maret 2026.

United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA). (2026). Laporan korban konflik Timur Tengah sejak Februari 2026.

***

 

#BagaimanaMenurutmu? #Apakah kita cukup berani menyelami makna perang dan damai lebih dalam, atau hanya akan terhipnotis oleh angka dan headline semata? #Mari bagikan refleksimu, karena di sinilah percikan perubahan bermula.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni