Menyusuri Sunyi: Tubuh, Diam, dan Lubang Kesunyian dalam Latihan Panji Sepuh
Karya: Eko Windarto
Di balik gerak yang lambat dan hening
Tersembunyi perjalanan tanpa kata
Tubuh bukan sekadar bayang tak berarah
Melainkan ladang jiwa yang menapak sunyi
Menyulam ingatan dalam gulungan kain tersulam nasib
Tubuh-tubuh itu bernapas dalam ritme purba
Menjelajah waktu tanpa peta
Setiap jejak adalah bisu yang berbicara
Mengundang kita melebur dari pengamat bisu
Menjadi sepotong cerita yang bergerak bersama
Diam hadir bukan kosong melata
Namun kepenuhan makna tak terbisikkan
Sosok duduk bersila di jantung ruang itu
Menggetarkan sunyi
Di sana, bahasa menjadi harmoni
Setiap gemerisik kain, langkah yang menyapa lantai
Bayang yang menari di celah sinar remang adalah mantra yang mengikat hati terpejam
Mengajari kerendahan bahwa tak semua perlu kata
Ada wilayah batin yang hanya bisa dihormati dengan hening
Lalu kita terjerembab ke lubang kesunyian
Bukan celah dunia, melainkan celah jiwa
Tempat bising sirna, identitas mencairkan rasa
Batas melebur, subjek menjadi objek
Hanya kesadaran yang hening tersisa
Dalam ruang tanpa gema itu, kita bertemu sendiri
Duduk telanjang tanpa topeng dan cerita
Menghadapi kekosongan yang menyesak sekaligus lepas
Merasakan getar kemungkinan tak terhingga
Pintu batin terbuka menuju makna yang lebih dalam
Panji Sepuh bukan lagi sejarah yang terpatri
Namun jalan menuju samudra tanpa tepian
Seni yang tak ingin dijamah oleh pikiran dingin
Melainkan dirasakan, dialami dalam sunyi dan napas
Menantang kita untuk bukan hanya menonton
Tapi menjadi bagian dari arus yang mengalir ke dalam
Jadi, bagaimana kita melangkah?
Menjadi penonton saja atau menenggelamkan diri?
Karena sejatinya, perjalanan paling agung bukan melintasi bumi
Melainkan menyusuri lorong-lorong sunyi jiwa
Di sanalah terletak rahasia yang tak terucap
Yang hanya dibisikkan oleh tubuh diam dan lubang kesunyian
Sekar Putih, 442026
Catatan:
Puisi esai ini didramatisasikan dari berbagai sumber dan rujukan seperti buku Soedarsono, R. (1984). Wayang Wong dan Panji: Kajian Seni Pertunjukan Jawa.
Buku ini menawarkan pembahasan mendalam mengenai seni pertunjukan Jawa, khususnya tentang Panji, yang berperan sebagai warisan budaya dengan makna filosofis dan spiritual.
Said, S. (2015). Kesunyian dalam Seni Tradisional: Sebuah Pendekatan Estetik dan Spiritual. Jurnal Humaniora, 27(3), 232-245.
Artikel ini membahas peran diam dan kesunyian sebagai bahasa dalam seni tradisional, menggarisbawahi dimensi etis dan kontemplatifnya.
Merleau-Ponty, M. (1962). Phenomenology of Perception.
Karya klasik filsafat ini menjelaskan bagaimana tubuh menjadi medium utama pengalaman dan kesadaran, relevan untuk memahami tubuh sebagai jalan perjalanan batin dalam latihan Panji Sepuh.
Emmerson, S., & Smalley, D. (2001). The Language of Silence: Communication and Performing Arts.
Buku ini menguraikan bagaimana kesunyian dan diam berperan sebagai elemen komunikatif dalam pertunjukan, sejalan dengan pengalaman batin yang tercipta dalam latihan Panji Sepuh.
***
#PuisiEsai
#PanjiSepuh
Komentar
Posting Komentar