Paradoks Mitologi dan Kearifan Budaya Jawa dalam Arus Perubahan

Pose Dr. Slamet Hendro Kusumo MM di depan salah satu lukisannya.

Dalam pameran tunggal bertajuk Sastra Rupa Paradoks Mitologi, Dr. Slamet Hendro Kusumo MM membuka kembali pintu-pintu pemikiran yang meresapi denyut kehidupan budaya Jawa, Sabtu, 4/3/2026, di Raos Pondok Seni Batu.

Bersama pitutur luhur yang mengalun dari tradisi nenek moyang, ia mengingatkan kita pada sebuah adagium bijak: “Aja kuminter mudak keblinger” — jangan merasa paling pandai agar tidak tersesat di jalan kehidupan.

Rona perubahan yang terus bergulir dalam budaya tidak pernah berhenti membawa kontradiksi dan ketegangan. Di sana, kehancuran seolah berperang dengan penciptaan; asimilasi dan kontraksi menjadi irama yang mendorong lahirnya makna baru, melukis ulang wajah tradisi dari kontras antara nilai-nilai lama dan tuntutan zaman. 
Dalam pusaran ketegangan ini, tumpang tindih kepentingan antara global dan lokal menciptakan mitos baru yang semakin menyulam kompleksitas sejarah manusia.

Dr. Slamet menggambarkan realitas yang tak terelakkan: kekuatan sistem besar modern, dengan segala dominasi ekonomi dan politiknya, tak mampu sepenuhnya menghapus akar keluhuran lokal yang bersemayam dalam tradisi. 

"Senyap namun kokoh, akar-akar subkultur tersebut tetap tumbuh, bersinggungan dengan modernitas materialistis yang seringkali lupa bahwa kebutuhan manusia jauh lebih luas daripada sekadar kekayaan duniawi," tutur Dr. Slamet Hendro Kusumo.

Mengutip John Naisbitt, Dr. Slamet menegaskan bahwa “semakin besar suatu sistem, semakin kecil namun semakin kuat bagian-bagiannya”. 
Lukisan Dr. Slamet Hendro Kusumo MM dengan judul: Filosofi 

Filosofi ini menegaskan bahwa di balik gerak besar zaman, jejak-jejak masa lalu tetap mengikat langkah kaum yang bergerak menyingkap tabir waktu.

Perubahan itu bukan evolusi tanpa sejarah, melainkan sebuah dialog antara masa lalu dan masa depan, sebuah tarian antar revolusi dan kontinuitas.

"Dalam kerangka inilah, teori-teori keberlangsungan hidup sejati tak pernah sempurna. Teknologi canggih sekalipun tidak mampu menjawab seluruh kompleksitas tujuan hidup manusia yang heterogen," tandasnya.

Trend yang muncul pun sering kali dicurigai sebagai bayang-bayang kekuatan kapital yang tersembunyi, menggerakkan roda zaman di balik layar.
"Pameran Sastra Rupa Paradoks Mitologi bukan sekadar pameran seni, melainkan undangan untuk merenung dalam-samar makna perubahan budaya dan mitos, sekaligus seruan untuk tetap rendah hati, agar kita tidak terjebak dalam kesombongan ‘kuminter’ yang menyesatkan," sambungnya.

Dalam setiap riak kebudayaan, ada kisah tentang bertahan dan beradaptasi, tentang akar dan cakrawala, yang hendaknya kita simak dengan penuh rasa hormat dan kesadaran akan paradoks indah yang membentuk wajah bangsa.

"Melalui sajian puitis ini, mari kita menelusuri denyut eksistensi budaya Jawa yang kaya, sekaligus merefleksikan makna keluhuran dan perubahan dalam hidup bersama manusia modern yang tak lepas dari akar tradisi dan semangat masa depan," pungkasnya optimis.

Penulis: Win

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni