SATUPENA Jawa Timur: Menghidupkan Sastra Lewat Rerasan Sastra

Pemateri Dialog Rerasan Sastra, dari kanan, Akaha Taufan Aminudin, Syamsu Soed, Muklis dan Yani Handoko.

Menurut Ketua SATUPENA Jawa Timur, Akaha Taufan Aminudin, dalam dialog Rerasan Sastra yang digagas SATUPENA Jawa Timur berhasil mengukir sejarah sebagai wadah literasi yang menghubungkan seniman puisi esai dari berbagai daerah, di galeri Raos, Kota Batu, Jumat, 17/4/2026.

SATUPENA Pusat bukan hanya sebatas lomba atau kumpulan karya, melainkan juga platform untuk mengundang 50 penulis terbaik dunia dan menghadirkan duta puisi muda yang menjulang di tingkat nasional. 

Dengan semangat membumi dan sangat lokal, SATUPENA Jawa Timur memantik diskusi tentang warisan budaya, sejarah, dan inspirasi sastra yang terus hidup.

"Menghadirkan sastra sebagai suara kolektif masyarakat, SATUPENA Jawa Timur berhasil menjadi fenomena baru dalam dunia literasi Indonesia," tutur Taufan.

Puisi Esai yang baru berusia tiga tahun ini diprakarsai oleh Denny JA, tokoh literasi dan penggerak sastra nasional, yang memiliki visi mengangkat puisi esai sebagai medium perubahan sosial dan refleksi budaya.

"Baru-baru ini, satu festival besar dengan 1.250 karya dari seluruh Indonesia digelar, dan karya-karya dari Jawa Timur yang sangat kental dengan warna lokal ternyata berhasil masuk kategori "Harapan Baru". Salah satu penyumbang puisi terbaik berasal dari Tulungagung, memperlihatkan bahwa kekayaan sastra dari daerah terus tumbuh subur dan dihargai secara nasional," sambungnya.

Tidak berhenti di situ, SATUPENA juga memberikan ruang bagi para penulis puisi dari dunia internasional. Sekitar 50 penulis terpilih diundang untuk menyumbangkan suara mereka, dan dari Indonesia sendiri, ada 39 penulis yang terlibat aktif. Kegiatan ini bukan hanya ajang unjuk bakat, tetapi juga perwujudan globalisasi sastra tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Di sepanjang perjalanan ini, nama-nama seperti Slamet Hendra Kusumo, Yani Handoko, dan Sugiarto Anis Jati Wirawan muncul sebagai pionir penulis puisi dari Jawa Timur. Karya mereka dan rekan-rekan ini tidak hanya diterbitkan secara cetak tetapi juga didistribusikan secara gratis dalam format e-book, menjangkau pembaca luas di seluruh kawasan.

"Sebagai contoh nyata, buku puisi “Pulang dalam Keabadian” yang dikhususkan untuk penyair muda di bawah 25 tahun juga menunjukkan hasil gemilang. Di antaranya, Umi Ulfatul Syariah yang terpilih sebagai duta puisi nasional dan tampil sebagai narasumber sekaligus pembaca karyanya di Jakarta pada Desember 2024. Ini adalah bukti hidup bahwa sastra mampu melahirkan generasi penerus yang kreatif dan kritis," pungkasnya.

Sementara, Muhklis, penulis buku Klenik (Klan X), berbagi kisah menarik tentang proses kreatif dan penelitian mandirinya yang melibatkan eksplorasi warisan leluhur melalui kultur lokal di Banyuwangi. 

Dia menyebutkan bahwa simbolisme nenek moyang seringkali tersimpan dalam ritual-ritual sederhana seperti sesajen, yang selama ini sering disalahpahami sebagai hanya “klenik” atau dampak praduga tak ilmiah.

Dalam kunjungannya ke masyarakat Osing di Banyuwangi, Muhklis mendapati bahwa ritual sesajen saat menanam padi memegang makna ilmiah dan filosofis: bahan-bahan yang digunakan digunakan sebagai formulasi pertanian organik tradisional yang sangat relevan dengan isu kesehatan lahan pertanian modern yang makin terdegradasi.

"Penemuan ini menghadirkan pandangan baru bahwa warisan budaya tidak sekedar artefak yang usang, melainkan mengandung pengetahuan praktis yang bisa mendukung keberlanjutan kehidupan masa kini. Riset seperti ini membuka peluang literasi yang bertautan antara ilmu dan sastra," ujarnya.

Sedangkan menurut Syamsu Soed, sastra dalam konteks Jawa Timur dan budaya Jawa luas diartikan sebagai jalan keselamatan dan pengubah nasib. 

Istilah sastra sendiri dalam bahasa Jawa, Sastro Jendra Ayuningrat, mengandung makna “tulisan yang membawa kebaikan dan keselamatan.”

"Sastra bukan sekadar karya tertulis, tetapi proses berulang yang meliputi gagasan, pengolahan batin, dan lahirnya karya yang bermakna. Tanpa tiga tahap ini, tulisan hanya menjadi untaian kata tanpa jiwa," ungkap Syamsu.

Namun, dalam praktik modern, banyak penulis yang menulis berdasarkan mood, dan hal ini menimbulkan perdebatan apakah tulisan demikian dapat dikategorikan sebagai karya sastra sejati. 

Syamsu berpendapat bahwa inspirasi sejati sastra datang dari napas kehidupan, keseimbangan antara sadar dan bawah sadar, serta kemampuan menangkap bayangan-bayangan ide yang seringkali muncul antara keadaan tidur dan terjaga.

Puisi esai bukan lagi hanya pembaca dinikmati di ruang terbatas, tapi menjadi jembatan yang menghubungkan daerah, generasi, hingga budaya.

"Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa sastra adalah refleksi kehidupan yang kaya akan keunikan lokal sekaligus mengandung nilai universal. Dengan kesungguhan menggali makna dan menyebarkan karya secara luas, sastra Indonesia, khususnya Jawa Timur, layak diperhitungkan sebagai pilar pembangunan kebudayaan yang sehat dan berkelanjutan," tegasnya.

Penulis: Win

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Belajar: Warisan Purnawirawan Letkol Sukamto untuk Anak-Anak Sekitar

PjS Kades Puncak Jeringo Tegaskan Dana Desa untuk Pembangunan, Bukan untuk Korupsi

Melampaui Kanvas: Bagaimana Anang Prasetyo Membuka Pintu Jiwa Melalui Seni