Mengawali Perjalanan Antologi Sajak Kelana
Oleh: Eko Windarto
Dengan segala kerendahan hati dan ketulusan jiwa, kami mempersembahkan antologi Sajak Kelana, rangkaian puisi yang mengalun lirih dan bergemuruh dalam irama rindu dan perjuangan. Di setiap baitnya tergurat sendu hati seorang pengembara yang meninggalkan pelabuhan asal demi menapaki jalan asing penuh liku—tanah yang tidak mengenal doanya, namun menjadi saksi bisu perih yang harus ditelan.
Sajak-sajak ini bukan sekadar kata-kata yang terangkai indah, melainkan suara yang melintas batas ruang dan waktu, menguak makna perantauan yang kebanyakan dari kita pernah rasakan. Amarah yang membakar, rindu yang menyelinap diam-diam, putus asa yang mencoba merenggut semangat—semua terpadu dalam simfoni pergulatan jiwa yang memaksa kita bertanya kembali, “Apa arti sebuah perjalanan dan siapa kita di tengah arus kehidupan?”
Melalui Antologi Sajak Kelana, pembaca diajak menyelami lebih dalam keheningan yang terkadang terlupakan di tengah gemerlap kota, meresapi kesunyian yang menjadi rumah bagi harap dan doa. Ini adalah ode untuk mereka yang berani melangkah meskipun beban terasa berat, penghormatan bagi ketangguhan dalam menghadapi getir dan kendala, serta seruan untuk tak pernah lelah merajut mimpi dan memperjuangkan harapan.
Semoga bait-bait penuh makna dalam antologi ini dapat menjadi cermin dan pelipur bagi jiwa yang pernah tersesat, penguat bagi hati yang rapuh, dan pembakar semangat bagi siapa saja yang membaca. Dan pada akhirnya, semoga sajak-sajak ini membawa kita semua pada kesadaran bahwa di balik segala kepiluan perantauan, ada kekuatan tak terbatas yang menanti untuk dijemput.
Selamat menyusuri perjalanan dalam Sajak Kelana, di mana kata menjadi langkah, dan puisi menjadi pelita.
Dengan segala kerendahan hati dan ketulusan jiwa, kami mempersembahkan Antologi Sajak Kelana, rangkaian puisi yang mengalun lirih dan bergemuruh dalam irama rindu dan perjuangan.
Di setiap baitnya tergurat sendu hati seorang pengembara yang meninggalkan pelabuhan asal demi menapaki jalan asing penuh liku—tanah yang tidak mengenal doanya, namun menjadi saksi bisu perih yang harus ditelan.
Sajak Kelana
Karya: Salika Najiyya
Aku titipkan nama pada koper yang retak,
menyeret langkah ke tanah rantau yang tak kenal doaku.
Di sini, aspal mengajari cara menelan perih,
dan gemerlap kota menertawakan air mata yang luruh sembunyi-sembunyi.
Amarah!
Mengapa tanah kelahiran harus kutukar demi sesuap nasi?
Mengapa pelukan Ibu harus kuganti dengan lembur yang enggan menyudahi malam?
Aku memprotes langit,
tapi langit sibuk menghitung angka-angka yang kukirimkan.
Rindu...
Ia menyelinap tiap malam bagai pencuri.
Merampas hangat selimut, aroma dapur,
dan gema suara: _“Nak, sudah makan?”_
Kudekap bantal yang membeku,
berharap di ujung sana ada jemari yang sedang mengusap potretku.
Putus asa sempat bertamu.
Ia duduk di dada, berbisik lirih meremehkan mimpi.
Katanya: _“Pulanglah, engkau telah kalah.”_
Hampir saja aku menyerah pada bisikannya.
Namun tataplah sepasang tangan ini.
Kasar, melepuh, tapi enggan melepas genggaman harapan.
Sebab di balik setiap peluh yang kukirim,
ada senyum anak di bangku sekolah.
Di balik setiap air mata,
ada martabat orang tua yang wajib kubahagiakan.
Maka aku tegak berdiri lagi.
Meski punggung mengaduh, kepala tetap mendongak menantang sepi.
Perantauan ini bukanlah kutukan.
Ini medan perangku. Dan aku belum selesai bertarung.
Suatu hari nanti aku pasti pulang,
bukan menggendong kekalahan dan luka,
melainkan menjemput kemenangan yang selama ini
kutabung dari rindu, amarah, dan air mata.
Ma On Shan, 15 Juli 2026
Sajak Kelana: Sebuah Renungan tentang Perantauan, Rindu, dan Harapan
Puisi Sajak Kelana mengekspresikan perjalanan batin seorang perantau yang terpaksa meninggalkan tanah kelahiran guna mencari penghidupan di negeri asing. Melalui diksi yang penuh emosi dan metafora yang kuat, puisi ini membawa pembaca menyelami pergolakan jiwa antara keinginan untuk pulang dan kenyataan pahit yang harus dihadapi jauh dari rumah.
Penggunaan kata seperti "koper yang retak" dan "aspal mengajari cara menelan perih" mengilustrasikan realitas keras yang harus dilalui sang perantau. Ia tidak hanya membawa barang fisik, namun juga "nama" dan identitas yang terkadang terasa terkoyak oleh kondisi asing yang dihadapi. Perantauan ini menjadi ujian sekaligus medan perang, di mana amarah dan rindu bergumul dalam hati yang penuh luka.
Rindu yang digambarkan seperti pencuri malam memberikan kesan kesunyian dan sunyi yang mendalam. Sang perantau merindukan pelukan ibu, suara sayang, dan kehangatan rumah yang kini hanya dapat dirasakan lewat bayangan dan harapan. Puisi ini berhasil menyuarakan suara jutaan insan yang merantau, yang di antara duka dan sepi tetap berjuang demi keluarga dan masa depan.
Pesan utama puisi ini adalah tentang keteguhan hati dan harapan yang tak pernah padam. Meskipun putus asa sempat singgah, sang perantau memilih untuk tidak menyerah. Ada kebanggaan dan tanggung jawab yang menguatkan langkahnya untuk terus berjuang, meyakini suatu saat kemenangan akan menjadi miliknya.
Secara keseluruhan, Sajak Kelana adalah sebuah karya yang kaya makna dan penuh kejujuran emosional. Ia mengajak kita untuk lebih mengapresiasi pengorbanan para perantau dan menyadari bahwa di balik setiap cerita kerinduan dan perjuangan, tersimpan harapan yang kokoh untuk masa depan yang lebih baik. Puisi ini tidak hanya sekadar karya sastra, tetapi juga refleksi universal tentang perjalanan hidup, pengorbanan, dan kekuatan harapan.
Sekar Putih, 15/7/2026
Komentar
Posting Komentar