Menggali Sejarah Nusantara: Dari Kerajaan hingga Penjajahan
Djakarta, 17 Agustus 1945 — "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya."
Demikian bunyi teks Proklamasi Kemerdekaan yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta di hari bersejarah tersebut atas nama bangsa Indonesia.
Menurut Kyai Fadilah pada Minggu malam renungan (16/8), istilah Nusantara berasal dari kata nusa yang berarti pulau, menandakan wilayah Indonesia yang terdiri lebih dari 17.000 pulau.
"Nusantara pada masa lampau merupakan kumpulan kerajaan merdeka yang berjaya, seperti Kerajaan Tarumanegara, Kertanegara, Kanjuruhan, Singosari, Majapahit, dan Sriwijaya. Kerajaan-kerajaan tersebut menunjukkan kejayaan peradaban Nusantara sebelum terjadinya kolonialisasi," tutur Kyai Fadilah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Muthadin, Sekar Putih, Pendem, Kec. Junrejo, Kota Batu, Minggu, 16/8/2026.
Pada tahun 1601, bangsa Eropa yang terdiri dari Belanda dan Inggris datang ke Nusantara dengan tujuan mencari rempah-rempah dan kekayaan alam. Penjajahan Belanda berlangsung selama sekitar tiga setengah abad dan kemudian digantikan oleh penjajahan Jepang selama tiga setengah tahun pada masa Perang Dunia II.
Pada Agustus 1945, kemenangan Sekutu yang membombardir Jepang dengan bom atom pada tanggal 6 dan 9 Agustus menyebabkan hancurnya kekuasaan Jepang. Dalam kekosongan kekuasaan ini, para pemuda dan tokoh bangsa Indonesia mulai menggalang perjuangan kemerdekaan.
"Pembentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menjadi tonggak penting dalam proses kemerdekaan. BPUPKI menggelar musyawarah untuk merancang kemerdekaan Indonesia, sementara PPKI membentuk panitia kecil yang dikenal sebagai Panitia Sembilan," tambahnya.
Panitia Sembilan yang terdiri dari tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Muhammad Yamin, Kyai Haji Wahid Hasyim (putra dari Syekh Hasyim Asy'ari), Kyai Haji Agus Salim, Maramis, Abdul Kahar Muzakir, Ahmad Subarjo, dan Abi Koesno Tjokroso, bertugas merumuskan dasar negara.
"Dalam rumusan mereka, Pancasila terdiri dari lima sila yang diambil dari nilai-nilai agama dan kebudayaan Nusantara. Sila-sila ini berakar dari prinsip-prinsip rukun Islam dan diolah ke dalam bahasa Jawa dan konsep kultural yang dikenal dalam masyarakat," sambungnya.
Sejarah panjang Nusantara mulai dari kerajaan-kerajaan merdeka hingga penjajahan asing menunjukkan dinamika kekuatan dan ketahanan bangsa Indonesia.
"Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta adalah puncak dari perjuangan panjang ini. Perumusan Pancasila sebagai dasar negara bukan hanya sebuah deklarasi politik, melainkan refleksi nilai kebangsaan yang harus terus dijaga dan dipahami oleh setiap generasi," pungkasnya.
Penulis: Win
Komentar
Posting Komentar