MBG: Harapan dan Luka di Meja Makan Anak Bangsa
Karya: Eko Windarto
Di balik meja-meja makan siang di sudut sekolah
Tersebutlah kisah berbicara tentang harapan dan duka
Makan Bergizi Gratis — sebuah janji untuk generasi
Namun kini terlukis oleh rona kelam keracunan yang menipu.
Korban jiwa terus berlanjut, pelajar dari beragam tingkatan,
SMAN 3, SMP, SD — bersama sepi di ruang perawatan
Nasi goreng, tahu bulat, ayam suwir, telur dadar, acar, dan semangka,
Menu sederhana yang seharusnya menguatkan tubuh dan jiwa.
Namun siang itu, pukul sepuluh dan senyum merekah,
Berubah menjadi jerit pilu dan kepala yang memusingkan,
Empat jam berlalu, mual dan muntah mendera,
Sedetik demi detik, harapan pun redup di ruang kelas.
Keracunan, bisik angin di kelopak daun,
Bakteri, virus, toksin mengintai dalam setiap butir pangan,
Dari bahan tak segar, pengolahan yang kurang bersih,
Atau penyimpanan yang abai pada kode kesehatan.
Pemerintah turun tangan, Emil Dardak bersuara tegas
Penyebab pasti akan terkuak, dalam investigasi mendalam
Badan Gizi Nasional menggenggam harapan
Memanggil sakit, mencari akar dari duka yang terpaut.
Namun bukan hanya ruang perawatan yang menjadi saksi
Takut dan trauma bersemi di hati kecil para siswa
Mereka ragu menyambut hidangan bergizi
Ketidakpercayaan menebal di sela tawa dan langkah
Orang tua pun terbangun dari lelap keyakinan
Memandang program yang mulia dengan sepi dan curiga
Bagaimana program yang seharusnya memberi harapan,
kini membawa kekhawatiran hingga ke akar jiwa.
Namun, dari derita ini lahir kesempatan
Evaluasi pun harus menjadi kata kunci utama
Standar kebersihan harus ditegakkan teguh
Tidak boleh terobosan tercemar oleh kelalaian
Pelatihan bagi yang mengolah dan memilah di dapur
Sertifikasi yang mengikat janji aman bagi anak bangsa
Pengawasan rutin bukan sekadar seremonial
Namun nyawa yang diselamatkan tiap kali Makan Bergizi Gratis tersaji
Keterlibatan komite dan orang tua menjadi lentera
Menerangi jalur agar program tidak lagi terperosok
Sistem distribusi perlu terjalin dengan digital cermat
Memantau langkah makanan dari ladang hingga meja makan
Edukasi gizi bagi siswa bukan sekadar teori
Melainkan cerita hidup tentang cinta dan sehat
Menu variatif dan aman, hasil riset mendalam
Menjadi sarapan yang disukai dan memberi semangat
Pengadaan yang transparan tidak boleh terbungkus rahasia
Agar mutu tidak tergadai harga yang murah
Dan bila tragedi kembali mengetuk pintu hari
Respons cepat dan tepat harus menepis duka
Kasus di Nganjuk dan Sidoarjo adalah mantra peringatan,
Bahwa niat terbaik tanpa ketelitian bisa rapuh,
Namun sinar harapan menyala, bila kita canangkan bersama,
Kolaborasi, keterbukaan, dan hati yang peduli.
Maka mari kita satukan langkah, dari pusat ke pelosok desa
Menjadikan MBG bukan sekadar makanan
Tapi jembatan menuju masa depan cerah
Dimana anak-anak bebas dari kelaparan dan rasa takut
Dalam setiap piring yang tersaji, tertulis janji suci
Bahwa bangsa ini akan menghidupi anaknya
Beratapkan langit harapan dan bumi perbaikan
Tumbuhlah, generasi emas, dengan gizi dan cinta.
***
Catatan:
Puisi esai ini didramatisasikan dari berbagai sumber berita
Sekar Putih, 1192026
Komentar
Posting Komentar