Ruang Kreatif Sind Cafe Menggelar Pentas Literasi Musik
Di sudut Kota Batu yang teduh, hadir sebuah ruang baru nan penuh harap di Sind Cafe s n-Space, Jalan, Patimura, Glonggong, Temas, Kota Batu, Sabtu malam, 12/6/ 2026.
Di sinilah gema kreativitas pertama kali mengalun lewat Pentas Silaturahmi Literasi Musik — sebuah perhelatan yang menyatukan ragam nada dan kata dari beragam penjuru Nusantara, bahkan hingga mancanegara.
Meski belum resmi beroperasi, Sind Cafe sudah menebarkan aura inspirasi dan getar jiwa seni yang mengalir tanpa henti.
Herman Aga, tokoh literasi musik yang sarat pengalaman dan wibawa, menyampaikan pidato pembuka yang menyentuh.
Herman Aga saat membaca puisi WS. Rendra, Blues untuk Bonei yang berkolaborasi dengan pemain gitar solo
Dengan penuh keyakinan, ia mengingatkan pentingnya keberadaan ruang seni sebagai ladang subur bagi para seniman dan kreator untuk menuangkan ekspresi sekaligus berkarya dengan dampak sosial dan ekonomi yang nyata.
“Sind Cafe bukan sekadar tempat bertemu,” ujar Herman, “melainkan ruang persinggahan bagi talenta-talenta muda, ladang yang menumbuhkan benih kreativitas baru bagi Kota Batu dan Indonesia.”
Di antara para hadirin yang memenuhi ruang hangat itu, tampak sosok Mas Aris, punggawa dan tuan rumah malam itu.
Dengan hati tulus, ia membuka acara, mengawali dengan salam penuh doa:
“Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kami menyambut dengan hormat para tamu undangan sekalian. Mohon maaf atas segala kekurangan, namun yakinlah tempat ini adalah rumah kita bersama—ruang untuk berekspresi dan berkarya demi kemajuan Kota Batu tercinta.”
Meskipun belum resmi diresmikan, Sind Cafe telah memperlihatkan potensinya sebagai oasis kreativitas.
Sebuah warung sederhana yang berubah menjadi kanvas hidup bagi segala ragam seni: musik, puisi, dan ekspresi budaya lainnya.
Mas Aris pun berharap tempat ini menjadi tempat lahirnya generasi muda berani bermimpi dan berkarya dengan semangat membara, memberikan warna serta sumbangsih pada Kota Batu dan Indonesia.
"Malam ini, panggung kecil di Sind Cafe n c-Space dipenuhi ragam musisi dari berbagai daerah: Kota Batu dan Malang, Jawa Timur, Pekalongan, Yogyakarta,Jawa Tengah, Jakarta hingga Batam dan Aceh yang jauh di ujung barat Nusantara," sambung Aris.
Suara khas dari Yogyakarta dan Institut Sape Dayak pun mengisi ruang dengan kekayaan budaya yang luhur.
Penampilan musisi gaek Untung Basuki dari Yogyakarta yang memukau menjadi puncak energi yang menggetarkan, menghadirkan musik penuh melodi dan semangat yang dalam.
Sebuah momen istimewa juga hadir lewat pembacaan puisi karya maestro sastra WS Rendra. Dipadukan dalam kolaborasi “Blues untuk Bonei,” puisi dan musik blues bertaut dalam harmoni indah.
Gitaris solo mengiringi melodi blues yang mendayu, sementara Herman Aga dengan penuh penghayatan melantunkan kata-kata yang sarat makna, membawa hadirin ke dalam perenungan yang mendalam dan penuh doa.
Tidak hanya pengisi acara Nusantara, malam itu juga disemarakkan oleh kedatangan tamu istimewa dari Turki, seorang penyair yang baru tiba dan antusias berbagi karya puisinya.
Kehadirannya menambah warna pada perhelatan lintas budaya ini, menegaskan bahwa seni dan literasi adalah bahasa universal yang melampaui batas negara dan bangsa. Besar harapan agar kelak penyair ini dapat berbagi lebih luas di kesempatan lain.
Sementara Herman Aga menuturkan, "Pentas Silaturahmi Literasi Musik bukan sekadar hiburan semata. Ia merupakan sebuah gerakan simbolik—panggilan bagi semua lapisan masyarakat, khususnya para muda-mudi, untuk bersama-sama membangun ekosistem seni yang hidup, berkembang, dan produktif. Di sini, bukan hanya karya yang dinikmati, melainkan inspirasi dan pemberdayaan yang tumbuh menjadi kekuatan bersama."
Keindahan malam itu terpancar dari kehangatan wajah-wajah yang berseri-seri, dari alunan musik yang memeluk jiwa, bait-bait puisi yang menembus hati, serta tawa dan sapaan akrab yang membangun rasa kebersamaan.
"Pentas ini bukan sekadar tahap perkenalan, melainkan jembatan bagi ruang-ruang seni alternatif seperti Sind Cafe untuk bertumbuh—tempat lahirnya talenta muda dan karya terbaik dari harmoni kolaborasi," sambungnya.
Semangat dan harapan yang disampaikan Herman Aga dan Mas Aris meneguhkan pijakan awal yang kokoh untuk kelanjutan kegiatan seni dan literasi di Kota Batu.
"Di tengah derasnya arus tantangan zaman, kreativitas menjadi cahaya penuntun yang mengeratkan dan menguatkan jiwa-jiwa bangsa dalam bingkai seni dan budaya," tambah Herman.
Menutup malam penuh makna ini, terpatri keyakinan bahwa seni adalah bahasa universal—penyentuh hati dan jiwa, pengejawantah harapan, dan penggerak perubahan.
Semoga Sind Cafe menjadi saksi lahirnya karya-karya agung yang tidak hanya memikat hati para penikmat seni, tapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat Kota Batu dan sekitarnya.
"Mari kita nantikan kiprah selanjutnya dari ruang kreatif yang kini membuka pintu bagi mimpi, bakat, dan kepeloporan. Semoga benih seni yang ditanamkan hari ini tumbuh menjadi pohon besar berbuah lebat — memberikan naungan dan kesejukan bagi generasi yang akan datang," pungkasnya.
Penulis: Win
Komentar
Posting Komentar