Jejak di Laut Anyer
Karya: Eko Windarto
Hari ketiga, langit menggenggam harap
Lima jiwa yang mengabdi pada tinta dan kata
Menghilang dalam bisu kabut Gunung Anak Krakatau Menyusuri jejak letusan, menggenggam berita.
Di gelombang, kapal TNI melaju setia
Menyisir samudra di barat Cikoneng-Labuan
Di balik riak, sebuah pelampung mengapung
Saksi bisu cerita yang belum terungkap nyata
Anyer, saksi bisu dari laut yang luas
Menanti jawaban di tiap desah ombaknya
Tim menyapu luas, memperluas pencarian, mencari jejak, menebar harap di cakrawala.
Pelampung kecil itu, apakah isyarat hidup, atau hanya serpihan mimpi yang terpecah? Pertanyaan menggantung, bergelayut di angin.
Sementara laut menyimpan rahasia gelapnya.
Tangan-tangan yang mengarungi badai berita
Kini menunggu jawaban dari laut raya
Dengan doa dan kerja tanpa lelah, menanti bertemu dengan kehangatan nyata.
Dalam setiap pelampung yang terapung, Tersirat sebuah cerita tentang keberanian, Tentang jiwa yang tak pernah padam, Saat meliput kisah alam yang tak terduga.
Amukan Gunung Anak Krakatau Mengguncang bumi dan mengguncang harapan
Namun sinar keteguhan dalam kegelapan, menyala kuat di hati para pencari fakta.
Hari ketiga ini, bukan hanya tentang hilang, namun tentang pencarian yang tak pernah putus
Tentang kebersamaan yang terjalin di laut, menyulam harapan menjadi jalinan nyata.
Dalam alunan ombak dan bisu pelampung
Terdengar suara mereka yang hilang terpendam
Namun tak terhapus dalam sanubari setiap insan, menunggu pulang, melengkapi cerita yang hilang.
Begitulah lautan, penuh misteri dan harap
Menyimpan rahasia, menguji kesabaran manusia
Dalam pencarian mereka, terkandung doa tulus, agar segera tiba dalam pelukan cinta nyata.
***
Catatan:
Puisi esai ini didramatisasikan dari berbagai sumber
Sekar Putih, 1192029
Komentar
Posting Komentar